Pergeseran paradigma dari alam semesta yang statis menuju kosmos yang dinamis menjadi salah satu pencapaian terbesar sains abad ke-20. Di Indonesia, tokoh fisika atom terkemuka, Prof. Achmad Baiquni, mendedikasikan pemikirannya untuk menelaah bagaimana temuan-temuan revolusioner astrofisika ini beresonansi kuat dengan pesan-pesan transendental dalam Al-Quran.
Melalui esai ilmiahnya yang bertajuk "Konsep-Konsep Kosmologis", Baiquni berargumen bahwa kegagalan penafsiran ayat-ayat semesta (kauniyah) pada masa lalu bukan disebabkan oleh kekeliruan teks suci, melainkan keterbatasan metodologi dan instrumen ilmiah para mufasir pada era sebelumnya. Ketika teknologi teleskop dan spektrometri belum memadai, konsepsi manusia tentang ruang angkasa terjebak pada dogma kosmos yang statis dan abadi.
Fondasi pemahaman klasik ini mulai runtuh pada tahun 1929 ketika astronom Edwin Hubble membuktikan bahwa galaksi-galaksi bergerak saling menjauhi. Temuan tentang alam semesta yang mengembang (expanding universe) ini mengindikasikan bahwa jika waktu diputar mundur, semua materi di alam semesta ini pada awalnya berasal dari satu titik tunggal. Gagasan ilmiah ini selaras dengan Surah Al-Anbiya ayat 30 yang menyebutkan bahwa langit dan bumi dulunya adalah suatu yang padu sebelum akhirnya dipisahkan.
Gagasan tersebut kemudian dipertajam oleh fisikawan George Gamow pada tahun 1952. Ia memformulasikan bahwa seluruh materi kosmik yang kini tersebar di miliaran galaksi dahulunya termampatkan dalam gumpalan neutron raksasa yang sangat padat sebelum akhirnya meledak hebat—peristiwa yang kita kenal sebagai Big Bang. Keselarasan sains dengan teks suci ini juga diamati oleh pemikir Prancis Maurice Bucaille, yang menegaskan bebasnya Al-Quran dari kesalahan sains era abad pertengahan.
Seiring berkembangnya astrofisika teoritis, konsep awal mula jagat raya disempurnakan menjadi konsep singularitas—sebuah titik dengan volume nol dan kerapatan tak terhingga. Menyoroti fenomena ini, astrofisikawan Nidhal Guessoum menjelaskan bahwa singularitas secara rasional mendukung doktrin penciptaan dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Pada akhirnya, upaya Achmad Baiquni dalam menelaah kosmologi modern membuktikan bahwa Al-Quran tidak pernah bertentangan dengan kebenaran ilmiah yang sahih, melainkan mendahuluinya dalam membimbing nalar manusia.