Industri kelapa sawit nasional kembali mengambil langkah maju dalam adopsi teknologi digital. Dalam ajang The Palm Oil Mill International Conference (TPOMI4) yang digelar di Medan, Sumatera Utara, teknologi PROFOSS 2 resmi diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pengendalian mutu minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Inovasi mutakhir ini memungkinkan pengukuran kadar asam lemak bebas atau Free Fatty Acid (FFA) dilakukan secara langsung (real-time) pada setiap tangki truk pengangkut CPO. Sistem ini terintegrasi langsung dengan modul timbangan pabrik pemurnian (refinery) pada platform Enterprise Resource Planning (ERP) mySAP365, sehingga data kualitas bahan baku dapat langsung tercatat secara otomatis saat proses penerimaan berlangsung.

Sebelum adanya teknologi ini, industri kelapa sawit umumnya masih mengandalkan metode pengujian FFA konvensional yang memerlukan pengambilan sampel manual dan analisis laboratorium secara berkala. Proses tradisional ini membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lama, sehingga menunda pengambilan keputusan operasional penting di pabrik pengolahan.

Dengan implementasi PROFOSS 2, percepatan verifikasi bahan baku yang masuk dapat terwujud berkat ketersediaan data kualitas secara instan. Selain itu, digitalisasi pencatatan ini memastikan seluruh riwayat pengujian tersimpan dengan rapi dan sistematis, mempermudah pelacakan data untuk kebutuhan audit industri maupun evaluasi kinerja operasional secara berkala.

Guna menjamin kelancaran sistem, teknologi ini ditopang oleh infrastruktur jaringan Private Network Enterprise hasil kerja sama dengan Indosat. Jaringan privat ini memastikan proses transfer data antara alat ukur dan sistem ERP berjalan dengan kecepatan tinggi serta tingkat keamanan yang terjaga.

Pihak pengembang dari PT SMART Engineering Industries Sdn. Bhd. menyatakan bahwa peluncuran PROFOSS 2 menjadi bukti nyata komitmen industri dalam meningkatkan daya saing kelapa sawit Indonesia di kancah internasional. Langkah ini diharapkan mampu mendorong transparansi dan ketertelusuran (traceability) rantai pasok CPO nasional yang lebih andal di masa depan.