Teheran - Panglima Angkatan Bersenjata (Artesh) Republik Islam Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait klaim kekuasaan atas Selat Hormuz. Hatami menegaskan bahwa wilayah perairan strategis tersebut berada di bawah pengawasan ketat militer Iran yang siap mematahkan dominasi asing di kawasan.

Dalam pernyataan resminya, Hatami mengkritik manuver politik Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang dinilai keliru dalam menyikapi status Selat Hormuz. Menurutnya, ketahanan bangsa serta kesiapan para pejuang Iran menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan militer maupun pertempuran opini di ruang publik dan media internasional.

Lebih lanjut, Hatami menyoroti penurunan pengaruh militer global Amerika Serikat yang dinilai tidak lagi memiliki otoritas kuat seperti sebelumnya. Ia menilai banyak negara di kawasan kini mulai mencari alternatif aliansi keamanan baru karena tidak lagi memercayai komitmen perlindungan dari Washington.

Di sisi lain, restrukturisasi militer pertahanan yang diinstruksikan oleh Pemimpin Tertinggi Iran diklaim telah memperkuat posisi taktis negara tersebut. Upaya pembenahan keamanan ini mengirimkan pesan jelas bahwa setiap eskalasi militer yang diprakarsai oleh pihak luar hanya akan memicu perlawanan defensif yang lebih gigih dari pihak Teheran.

Sebagai langkah taktis menghadapi potensi agresi, Angkatan Darat Iran juga mengumumkan program apresiasi finansial yang didukung oleh gerakan jihad finansial setempat. Program tersebut menawarkan imbalan sebesar 30.000 dolar AS bagi siapa saja yang berhasil melumpuhkan atau menangkap tentara agresor Amerika Serikat, dengan nilai apresiasi dua kali lipat khusus untuk perempuan Iran yang melakukan aksi tersebut.