Menyambut momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Subholding Upstream Pertamina ini terus memacu kegiatan eksplorasi, mengembangkan sumber daya migas, serta menerapkan inovasi teknologi terkini guna mengoptimalkan produksi minyak dan gas bumi di tanah air.
Sepanjang tahun 2026, PHE mencatatkan berbagai capaian strategis. Di wilayah kerja Kalimantan, anak usahanya, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), sukses merampungkan pemasangan topside platform Proyek Manpatu pada akhir Mei 2026. Menyusul keberhasilan tersebut, platform keempat pada Proyek Sisi Nubi AOI juga resmi beroperasi (onstream) satu bulan kemudian untuk menyokong pasokan gas nasional.
Selain itu, PHE berhasil menyelesaikan Survei Seismik 3D Kandawulo di perairan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang masuk dalam wilayah South Kutai Basin. Kegiatan survei lepas pantai seluas 2.500 kilometer persegi ini merupakan bagian dari Komitmen Kerja Pasti Jambi Merang (KKPJM). Bekerja sama dengan PT Elnusa Tbk, proyek ini rampung lebih cepat dari target dengan nihil kecelakaan kerja (zero accident) berkat penggunaan teknologi broadband marine streamer untuk pencitraan bawah permukaan yang lebih presisi.
Sekretaris Perusahaan PHE, Hermansyah Y Nasroen, menjelaskan bahwa keberhasilan operasional tersebut tidak lepas dari kolaborasi dengan pemerintah daerah setempat. Dari sisi portofolio, PHE secara konsisten memperluas wilayah kerja (WK) eksplorasi. Antara tahun 2022 hingga 2025, perusahaan telah mengakuisisi sembilan WK baru, termasuk WK Binaiya di Maluku, WK Lavender di Sulawesi Tenggara, dan WK Bobara di Papua yang diperoleh pada tahun 2025.
Hingga pertengahan 2026, PHE telah mengamankan potensi sumber daya kontingen 2C sebesar 108 juta barel setara minyak (MMBOE), serta potensi minyak nonkonvensional (MNK) di Blok Rokan mencapai 724,22 juta barel minyak (MMBO). Untuk memaksimalkan produksi di lapangan matang (mature), PHE mempelopori penerapan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) melalui injeksi polimer di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra. Langkah ini menandai proyek CEOR lepas pantai pertama di Indonesia yang diproyeksikan memberikan dampak optimal secara bertahap hingga tahun 2030.
Teknologi serupa juga telah diaplikasikan di Lapangan Minas Area A di Blok Rokan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Metode ini ditargetkan mampu mendongkrak pengurasan minyak sebesar 12 hingga 16 persen dari cadangan awal di tempat (Original Oil in Place), dengan proyeksi produksi mencapai 70 ribu barel per hari pada 2030 dan puncaknya 200 ribu barel per hari pada 2036. Di sisa tahun 2026, PHE fokus mempercepat berbagai proyek pengembangan baru (greenfield) serta meremajakan aset-aset yang sudah ada guna menjaga stabilitas suplai energi nasional berkelanjutan yang berbasis pada prinsip keberlanjutan lingkungan (ESG).