Sebanyak lebih dari 200 pakar global, yang terdiri dari peraih Penghargaan Nobel, peneliti, dan eksekutif teknologi terkemuka, mengeluarkan peringatan keras terkait ancaman kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan lapangan kerja global. Kelompok ini mendesak para pengambil kebijakan untuk segera merumuskan langkah mitigasi guna mengantisipasi gejolak ekonomi berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pernyataan sikap bersama yang dirilis pada Senin (13/7/2026) tersebut ditandatangani oleh berbagai tokoh penting, termasuk 16 ekonom penerima Nobel serta jajaran peneliti AI terkemuka. Mereka menyoroti bahwa lompatan kemampuan teknologi AI dalam satu dekade mendatang diproyeksikan bakal memicu transformasi ekonomi yang jauh lebih masif daripada Revolusi Industri, namun dengan laju yang jauh lebih cepat.

Di satu sisi, teknologi kecerdasan buatan diakui berpotensi meningkatkan standar hidup dan produktivitas masyarakat secara signifikan. Di sisi lain, tanpa regulasi dan kesiapan yang matang, transisi teknologi ini dikhawatirkan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang dapat mengacaukan stabilitas sosial-ekonomi global.

Oleh karena itu, para penandatangan menyerukan aksi nyata dari pemerintah dan ekonom dunia untuk mendalami implikasi ekonomi dari disrupsi ini sejak dini. Langkah-langkah pengamanan yang komprehensif dinilai mendesak untuk segera diterapkan guna menjamin bahwa perkembangan kecerdasan buatan dapat diarahkan demi kesejahteraan dan kemaslahatan masyarakat luas, bukan justru sebaliknya.