Linimasa media sosial kembali diwarnai tren olahraga baru yang menarik perhatian. Banyak anak muda di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta kini keranjingan menggeluti aktivitas fisik bernuansa eksklusif, mulai dari tenis, softball, hingga yang terbaru adalah padel. Tak hanya jenis olahraganya yang "kalcer" (kekinian), perlengkapan yang digunakan—sepatu lari berharga fantastis, raket branded, hingga smartwatch—juga menunjukkan kelas tersendiri.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Menurut Dosen Antropologi Universitas Airlangga, Rizky Sugianto Putri, ini merupakan manifestasi dari "FOMO Positivity" (Fear of Missing Out Positif). Gaya hidup sehat kini telah berubah menjadi pernyataan identitas, terutama bagi generasi muda yang sedang mencari jati diri di fase krisis usia dua puluhan. Tampil berolahraga dengan peralatan mahal di media sosial menjadi salah satu cara mereka menunjukkan eksistensi dan prestise.

Perubahan tren yang sangat cepat, dari demam sepeda lipat masa pandemi hingga kejayaan tenis lapangan yang kini tergeser oleh padel, juga menjadi sorotan. Sosiolog dari Universitas Nasional, Nia Elvina, menilai ini menunjukkan masyarakat perkotaan yang mudah terbawa arus tren. Olahraga tidak lagi sekadar soal kesehatan fisik, tetapi telah berfungsi sebagai penanda status sosial di kalangan kelas menengah, dengan tekanan tak tertulis untuk menggunakan barang bermerek tertentu.

Namun, analisis ini tidak akan lengkap tanpa melihat akar masalah di level infrastruktur kota. Pengamat tata kota Nirwono Joga menegaskan bahwa tren olahraga eksklusif ini lahir dari minimnya akses warga terhadap fasilitas publik yang layak. Berdasarkan undang-undang, seharusnya setiap kota memiliki minimal 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai tempat warga beraktivitas, termasuk olahraga, secara gratis dan aman.

Kenyataannya, kondisi di lapangan jauh dari ideal. Trotoar rusak dan dipedagang kaki lima, polusi udara tinggi, serta minimnya penerangan jalan pada malam hari membuat berolahraga di ruang publik menjadi tidak aman dan tidak nyaman. Risiko kecelakaan lalu lintas maupun ancaman kejahatan jalanan menjadi pertimbangan utama.

Akibat langsung dari krisis fasilitas publik ini, pasar mengambil alih. Ruang berolahraga yang aman dan nyaman kini lebih banyak ditemukan di kawasan komersial eksklusif—jalur lari di kawasan perkantoran elite, pusat kebugaran berbayar, atau lapangan tenis dan padel berharga selangit yang dikelola pihak swasta. Tren olahraga mahal ini, pada intinya, merupakan konsekuensi dari gagalnya negara dalam menyediakan ruang publik yang merata dan inklusif bagi seluruh warganya.