Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak seluruh tenaga kesehatan di Indonesia untuk senantiasa mengedepankan sikap empati dan kemanusiaan saat melayani pasien, khususnya para peserta BPJS Kesehatan. Puan menegaskan bahwa negara harus menjamin tidak ada satu pun warga negara yang merasa diabaikan atau diterlantarkan saat membutuhkan pertolongan medis.
Pernyataan ini dikeluarkan menyusul respons negatif dan perundungan di media sosial oleh sejumlah oknum yang diduga tenaga kesehatan terhadap keluhan seorang pasien. Puan menilai rentetan peristiwa tersebut, yang berujung pada wafatnya pasien setelah mengantre lama untuk mendapatkan ruang perawatan, harus menjadi alarm keras bagi perbaikan kualitas pelayanan publik di sektor kesehatan.
Lebih lanjut, Puan mendorong pemerintah agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan nasional. Menurutnya, standar pelayanan pasien gawat darurat serta manajemen ketersediaan tempat tidur di rumah sakit perlu diaudit secara nasional guna mencegah ketidakpastian bagi pasien yang berada dalam kondisi kritis.
Puan juga menekankan pentingnya pembangunan sistem informasi kapasitas layanan yang terintegrasi secara nasional. Langkah ini dinilai krusial agar masyarakat dapat memantau ketersediaan ruang perawatan secara transparan, tanpa harus mengalami proses birokrasi yang berbelit-belit di saat-saat genting.
Kasus ini mencuat ke publik setelah seorang pasien BPJS bernama Yurizal membagikan keluhannya di platform media sosial Threads mengenai antrean ruang rawat inap selama delapan jam. Keluhan tersebut justru direspons dengan komentar kurang berempati oleh sejumlah akun yang teridentifikasi milik tenaga medis, sebelum akhirnya pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia.