Pemerintah Iran resmi memulai rangkaian prosesi pemakaman akbar bagi mendiang Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, pada Jumat waktu setempat. Upacara yang berlangsung empat bulan setelah kematiannya akibat serangan udara pada 28 Februari lalu ini menjadi salah satu agenda kenegaraan paling signifikan dalam sejarah Republik Islam Iran.
Rangkaian upacara perpisahan dijadwalkan melintasi sejumlah kota besar di Iran hingga berakhir di kota kelahiran Khamenei, Mashhad, pada 9 Juli mendatang. Selain melibatkan delegasi internasional dari berbagai negara seperti Pakistan, India, dan Tiongkok, pemerintah Iran menargetkan partisipasi puluhan juta masyarakat sebagai wujud dukungan terhadap stabilitas nasional.
Pengamat menilai perhelatan ini bukan sekadar prosesi pemakaman, melainkan instrumen politik krusial bagi pemerintah. Di tengah tekanan ekonomi dan sanksi internasional yang memicu ketidakpuasan publik, kehadiran jutaan massa dipandang sebagai bentuk referendum dukungan terhadap legitimasi sistem pemerintahan yang kini dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian.
Menjawab tanda tanya publik mengenai jeda waktu empat bulan sebelum dikebumikan, otoritas Iran menjelaskan bahwa situasi perang yang berkecamuk pada saat itu membuat upacara publik yang aman tidak dimungkinkan. Para ahli forensik berpendapat bahwa jenazah kemungkinan besar dijaga dalam fasilitas pendingin khusus, sesuai dengan aturan hukum Syiah yang mengizinkan penundaan pemakaman dalam kondisi darurat atau luar biasa.
Meski menghadapi tantangan internal berupa krisis ekonomi dan penurunan kepercayaan sebagian warga, pengaruh Khamenei tetap melekat kuat pada penganut Syiah di berbagai negara serta jaringan kelompok sekutu di kawasan Timur Tengah. Pemakaman ini kini menjadi titik balik penting dalam upaya Teheran untuk menunjukkan ketahanan politiknya di tengah peta geopolitik yang terus berubah.