Developer game asal Korea Selatan, SHIFT UP, baru-baru ini merilis video musik untuk mempromosikan sekuel terbaru mereka, Stellar Blade: Blood Rain. Langkah ini diambil setelah pengenalan karakter protagonis baru bernama Evie di ajang Summer Game Fest 2026. Namun, alih-alih mendapatkan sambutan hangat, video promosi tersebut justru menuai reaksi negatif dari komunitas gamer global akibat penggunaan kecerdasan buatan (AI).

Video musik bertajuk "Wanna be in LOVE" yang berdurasi sekitar tiga setengah menit tersebut menampilkan lagu yang dinilai cukup mudah didengar (catchy). Kendati demikian, para penonton menyoroti kualitas visual, latar belakang, dan grafis yang dianggap tidak alami. Kecurigaan publik akhirnya terbukti lewat keterangan di akhir video yang menyatakan bahwa aset visual game tersebut memang diolah kembali menggunakan teknologi AI.

Keputusan SHIFT UP ini langsung memicu gelombang kritik dari para pemain yang menyayangkan penggunaan AI dalam karya kreatif. Gelombang protes kian memanas mengingat CEO SHIFT UP, Kim Hyung Tae, sebelumnya dikenal sangat vokal mendukung integrasi AI sebagai solusi efisiensi agar studio mereka dapat bersaing di pasar industri game global, terutama dengan kompetitor dari Amerika Serikat dan Tiongkok.

Langkah berani SHIFT UP yang tetap meluncurkan materi promosi berbasis AI ini memicu perdebatan hangat di kalangan pelaku industri kreatif. Sentimen negatif yang merebak menunjukkan adanya penolakan yang kuat dari komunitas gamer terhadap tren otomatisasi visual yang dinilai dapat mengabaikan kualitas artistik manusia.