Karya sastra sering kali menjadi jembatan spiritual bagi seorang rohaniwan untuk mengekspresikan kedekatannya dengan Sang Pencipta. Hal inilah yang tecermin dalam puisi pendek bertajuk "Sebuah Doa" karya Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, atau yang lebih akrab disapa Romo Yance Dou. Lewat bait-bait yang ringkas namun sarat makna, imam asal Papua ini menuangkan refleksi kontemplatif mengenai hubungan manusia dengan Tuhan sebagai pelindung jiwa yang sejati.
Puisi tersebut menggambarkan kesadaran spiritual yang mendalam, di mana hal yang awalnya dianggap sebagai rintangan atau "lawan" justru disadari sebagai "teman" spiritual—sebuah metafora untuk cobaan hidup yang pada akhirnya memperkuat iman. Romo Yance menuliskan bagaimana kehadiran Ilahi bertindak bagaikan pedang yang menumpas musuh-musuh jiwa, memberikan penyertaan tanpa syarat yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya berjalan sendirian.
Lahir di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah pada 5 September 1980, Romo Yance memiliki rekam jejak akademis dan pastoral yang kokoh. Ia menyelesaikan studi sarjana dan magister di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura, sebelum akhirnya ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura.
Dedikasinya terhadap pendidikan rohani juga membawanya hingga ke Eropa. Romo Yance berhasil meraih gelar Lich Theol Spirit dari Fakultas Teologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra, Pamplona, Spanyol pada periode 2015-2017. Pengalaman internasional ini memperkaya perspektif teologisnya yang kemudian ia terapkan sekembalinya ke tanah air.
Sepanjang pelayanan pastoralnya, Romo Yance pernah mengemban berbagai tugas penting, mulai dari menjadi Pastor Paroki Santo Petrus Oklip di Pegunungan Bintang hingga menjabat sebagai Direktur Spiritual Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua. Saat ini, ia aktif menjalankan amanah sebagai Sekretaris Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura, terus mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan umat sekaligus menyuarakan refleksi iman lewat goresan pena.