Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperluas keterjangkauan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di seluruh penjuru tanah air. Komitmen ini disampaikan secara resmi dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Jumat (14/8).
Salah satu langkah nyata yang dipaparkan adalah program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau hingga 108 juta penerima manfaat sejak diluncurkan pada Februari 2025 hingga Juni 2026. Layanan pemeriksaan kesehatan gratis ini kini dapat diakses masyarakat secara luas melalui 10.255 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang tersebar di 38 provinsi.
Dalam pidatonya, Kepala Negara mendorong masyarakat agar lebih proaktif memeriksakan kondisi fisik mereka tanpa rasa takut. Langkah preventif ini dinilai sangat penting agar potensi gangguan kesehatan dapat dideteksi dan diintervensi sejak dini, guna mewujudkan masyarakat yang lebih produktif.
Selain fokus pada deteksi dini, pembenahan fasilitas kesehatan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) juga menjadi prioritas. Pemerintah tercatat telah membangun dan meningkatkan kualitas 66 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), di mana 20 di antaranya merupakan rumah sakit baru yang kini telah beroperasi. Dukungan finansial juga diperkuat dengan penanggungan penuh iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi 96,8 juta warga prasejahtera.
Kendati demikian, tantangan krusial berupa defisit tenaga medis masih membayangi sektor kesehatan nasional. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 474 kabupaten/kota masih kekurangan 84.781 dokter umum, sementara 505 daerah membutuhkan tambahan 127.580 dokter gigi, serta ratusan wilayah lainnya yang masih krisis dokter spesialis.
Guna mengatasi kesenjangan tenaga medis ini, pemerintah telah menginisiasi pembukaan sembilan fakultas kedokteran baru dan 170 program studi spesialis serta subspesialis dalam kurun waktu 21 bulan terakhir. Kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi dan rumah sakit ini diharapkan dapat mempercepat distribusi dokter ahli, khususnya ke 11 provinsi yang kini akhirnya memiliki program studi spesialis untuk pertama kalinya.