Lingkungan sekolah yang sehat bukan hanya tentang prestasi akademik, melainkan juga kesejahteraan mental para siswanya. Menyadari urgensi tersebut, Suryani Institute for Mental Health berkolaborasi dengan Program Studi Spesialis Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud) menggelar penyuluhan kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri di SMAN 2 Singaraja.
Kehadiran tim ahli psikiatri ini disambut hangat oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 2 Singaraja, Gede Suwamba Jaya. Kegiatan promotif dan preventif ini bertujuan membekali para siswa dengan literasi kesehatan jiwa yang memadai, sekaligus membangun kesadaran pentingnya deteksi dini terhadap gangguan psikologis sejak usia sekolah.
Guru Besar Psikiatri FK Unud, Prof. Dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Sp.K.J., menekankan bahwa kesehatan mental memiliki kedudukan yang setara dengan kesehatan fisik dalam menunjang kualitas hidup seseorang. Masa remaja diidentifikasi sebagai periode transisi yang sangat rentan terhadap munculnya berbagai gangguan psikologis, sehingga edukasi sejak dini mutlak diperlukan.
Pada sesi pertama, dr. Pande Komang Wahyu Pradana menguraikan bagaimana kesehatan mental memengaruhi cara berpikir dan berperilaku remaja dalam merespons tekanan hidup. Ia memaparkan sejumlah indikator awal stres dan kecemasan, seperti gangguan pola tidur, penurunan konsentrasi, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, hingga rasa putus asa.
Sementara itu, dr. Ida Bagus Candra Pranadhita membahas strategi pencegahan bunuh diri serta meluruskan miskonsepsi yang berkembang di masyarakat. Ia menegaskan bahwa mendiskusikan topik ini secara empatik bukanlah pemicu tindakan nekat, melainkan sebuah ruang aman yang dapat menyelamatkan seseorang dari keputusasaan. Siswa juga diajak mengenali faktor pemicu seperti perundungan, tekanan akademik, dan rasa terisolasi.
Menariknya, penyuluhan ini juga melibatkan pemanfaatan teknologi lewat aplikasi skrining digital bernama "Harmoni Jiwa". Aplikasi ini merupakan buah kolaborasi riset antara Pemerintah Indonesia dan Australia melalui Universitas Udayana serta University of Sydney, yang dirancang untuk mempermudah siswa melakukan penilaian mandiri kondisi mental mereka secara rahasia dan cepat.
Kegiatan interaktif yang dipenuhi diskusi kritis ini ditutup dengan penyerahan buku Hope and Freedom karya Rudi Waisnawa sebagai simbol kampanye kepedulian sosial terhadap kesehatan jiwa. Melalui program ini, diharapkan para siswa SMAN 2 Singaraja tidak hanya memiliki pertahanan mental yang kuat, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang meruntuhkan stigma negatif di lingkungan sekolah.