Kota Sabang kembali menegaskan perannya sebagai pusat kajian bahari internasional setelah kawasan pesisir Pulau Weh dipilih menjadi laboratorium lapangan bagi para ilmuwan dari berbagai negara Asia. Program berskala internasional bertajuk UTM-PORSEC-USK 2026 ini resmi dibuka oleh Wakil Wali Kota Sabang, Suradji Junus, di The Pade Dive Resort pada Rabu (9/9/2026).
Mengusung fokus pada peningkatan kapasitas penginderaan jauh kelautan (ocean remote sensing), kegiatan ilmiah ini bertujuan memperkuat daya tahan wilayah pesisir dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global. Puluhan peserta yang terdiri atas peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, hingga Thailand terlibat aktif memanfaatkan karakteristik geografis Sabang sebagai objek studi nyata.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Sabang Suradji Junus menyampaikan apresiasi mendalam atas kepercayaan lembaga internasional yang memilih Sabang. Ia menekankan bahwa laut bukan sekadar bentang alam, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat setempat yang menopang sektor perikanan, pariwisata, hingga keanekaragaman hayati. Oleh sebab itu, penerapan teknologi satelit dan pemetaan geospasial menjadi sangat krusial untuk pemantauan lingkungan serta perumusan kebijakan tata kelola laut secara presisi.
Suradji juga menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas batas dalam merespons tantangan iklim global. Program riset ini menghadirkan jajaran pakar dunia, antara lain Dr. Stefano Vignudelli dari Badan Riset Nasional Italia (CNR), Associate Prof. Dr. Nurul Hazrina Binti Idris dari Universiti Teknologi Malaysia, Dr. Van Duong Nguyen dari Badan Riset Nasional Vietnam (VAST), serta jajaran tim ahli dari Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (USK). Kolaborasi interdisipliner ini diharapkan mampu melahirkan gagasan inovatif dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam merawat ekosistem bahari.