JAKARTA — Asosiasi Pegiat Pendidikan Ekonomi Kreatif (PPEKRAF) menggandeng Universitas Paramadina dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) guna memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nasional. Kolaborasi strategis ini bertujuan mencetak mahasiswa sebagai motor penggerak bisnis halal sekaligus mendorong pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi produktif.

Ketua Umum PPEKRAF, Tengku Hj Nurliyana Habsjah Sapuan, menegaskan bahwa industri kreatif tidak boleh sekadar menjadi komoditas produk semata. Sektor ini memerlukan pengelolaan terstruktur lewat jalur akademis, pendampingan, serta pemberdayaan yang tepat agar mampu menjadi motor pencipta lapangan kerja baru yang inklusif bagi kaum perempuan.

Menurut Nurliyana, mahasiswa memegang peranan krusial sebagai agen perubahan. Pengetahuan teoretis dari ruang kuliah harus diimplementasikan secara konkret menjadi solusi bisnis di tengah masyarakat, khususnya dalam memperkuat aspek manajemen, pemasaran digital, akses pembiayaan, serta standarisasi produk halal demi meningkatkan daya saing global.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan mahasiswa Magister Manajemen FEB Universitas Paramadina, Eska Maula Al Fauqi dan Endahing Pustakasari, menekankan pentingnya membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan ketimbang sekadar program seremonial. Pendekatan manajemen yang matang dinilai dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menyerap tenaga kerja lokal serta memperkuat rantai pasok.

Sementara itu, Ketua DNIKS, A Eko Cahyono, menambahkan bahwa sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi cetak biru baru dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Integrasi antara nilai-nilai bisnis halal—yang mengedepankan transparansi dan tata kelola yang baik—dengan inovasi akademis dipercaya dapat membangun kemandirian ekonomi secara jangka panjang.