Pasar semikonduktor global tengah menghadapi masa-masa sulit menyusul penurunan volume pengiriman System-on-Chip (SoC) smartphone sebesar 15 persen secara tahunan (YoY) pada semester pertama tahun 2026. Laporan terbaru dari Counterpoint Research mengungkapkan bahwa fenomena ini dipicu oleh lonjakan harga komponen memori serta siklus penggantian gawai yang kian lama oleh konsumen.

Dua raksasa industri chipset, MediaTek dan Qualcomm, menjadi pihak yang paling terdampak oleh tren negatif ini. Keduanya mencatatkan kemerosotan pengiriman hingga lebih dari 25 persen secara tahunan. Pangsa pasar MediaTek dilaporkan menyusut dari 37 persen menjadi 32 persen, sedangkan Qualcomm harus rela pangsa pasarnya terpangkas dari 26 persen ke angka 22 persen.

Penurunan performa Qualcomm dipengaruhi oleh keputusan Samsung yang mulai membagi dapur pacu seri Galaxy S26 dengan Exynos 2600, tidak lagi sepenuhnya mengandalkan Snapdragon. Penjualan Xiaomi 17 yang lesu juga turut memperberat tekanan terhadap Qualcomm. Sementara itu, MediaTek terhambat oleh kelangkaan pasokan memori pada segmen chipset kelas bawah (entry-level) dan 5G murah, meskipun lini Dimensity 9500 mereka tetap bersinar berkat adopsi oleh merek-merek populer seperti Vivo, Oppo, Poco, dan Redmi.

Di sisi lain, Apple, Unisoc, dan Samsung justru mencatat tren positif dengan meningkatkan pengapalan SoC mereka pada periode yang sama. Pangsa pasar Apple naik menjadi 19 persen disokong oleh tingginya peminat seri iPhone 17. Samsung terdongkrak ke angka 8 persen berkat penggunaan chip Exynos pada lini flagship terbarunya. Sementara itu, Unisoc sukses mengamankan 13 persen pangsa pasar karena banyak produsen ponsel memanfaatkan platform 4G murah milik mereka guna menekan ongkos produksi, disusul ekspansi chipset 5G mereka ke perangkat Poco dan Redmi.

Menariknya, di tengah lesunya pasar secara keseluruhan, permintaan untuk chipset yang mendukung kecerdasan buatan generatif (GenAI) justru melonjak hingga 24 persen YoY. Namun secara umum, Counterpoint memproyeksikan pengiriman SoC ponsel hingga akhir tahun 2026 masih akan terkoreksi sebesar 14 persen YoY. Krisis pasokan memori yang menjadi biang kerok utama perlambatan ini diperkirakan baru akan mulai pulih sepenuhnya pada paruh kedua tahun 2027.