Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) tengah memperkuat strategi penanggulangan Tuberkulosis (TBC) melalui inisiatif berbasis kewilayahan yang dikenal dengan program RW Bebas TBC. Langkah ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah dalam menekan angka prevalensi penyakit menular tersebut dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat di tingkat akar rumput.
Program ini menekankan pentingnya deteksi dini, pengobatan yang konsisten, dan peran serta warga dalam menciptakan lingkungan yang inklusif bagi penderita. Melalui pendekatan ini, kader kesehatan dan tokoh masyarakat didorong untuk proaktif mengidentifikasi warga yang menunjukkan gejala, seperti batuk berkepanjangan, agar segera mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie, menegaskan bahwa penanganan TBC memerlukan sinergi lintas sektor yang solid. Menurutnya, keberhasilan eliminasi penyakit ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada tenaga medis, melainkan harus menjadi gerakan kolektif masyarakat dalam memantau kesehatan lingkungan dan memberikan dukungan moral kepada penyintas.
Selain memperluas jangkauan layanan kesehatan, pemerintah daerah juga terus mengoptimalkan edukasi publik serta pelacakan kontak erat. Langkah preventif ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan akses pengobatan hingga tuntas, sekaligus sebagai sarana menghapus stigma sosial yang kerap menyulitkan proses penyembuhan pasien di tengah masyarakat.
Dengan penguatan kapasitas kader di tingkat RT dan RW, Pemerintah Kota Tangerang Selatan optimis mampu mempercepat target eliminasi TBC. Masyarakat diimbau untuk tidak merasa takut atau malu melakukan pemeriksaan, mengingat TBC adalah penyakit yang dapat disembuhkan sepenuhnya jika ditangani dengan disiplin sesuai anjuran tenaga medis profesional.