Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di industri digital kini tidak lagi sebatas tren atau ajang eksperimen semata. Perusahaan teknologi finansial DANA menegaskan bahwa keberhasilan adopsi AI hendaknya diukur dari efektivitasnya dalam menyelesaikan persoalan nyata, meningkatkan efisiensi operasional, serta menghadirkan dampak bisnis yang terukur.
Isu krusial tersebut mengemuka dalam ajang AI@Work Lab di IdeaFest 2026. CEO sekaligus Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, menyatakan bahwa nilai hakiki pemanfaatan AI tercapai saat teknologi ini membantu mempertajam analisis keputusan dan memberikan efisiensi yang teruji, sembari tetap menempatkan faktor manusia sebagai pemegang kendali utama dalam tata kelola risiko dan akuntabilitas.
Penerapan AI secara strategis terbukti memberikan kontribusi konkret bagi operasional DANA. Sepanjang 2025, integrasi agentic AI berhasil memacu produktivitas kerja hingga 57 persen, mengerek tingkat kepuasan pelanggan sebesar 13 persen, serta mempercepat penanganan layanan hingga 10 persen. Walaupun 80 hingga 90 persen kode di DANA kini dihasilkan dengan bantuan AI, peran insinyur perangkat lunak tetap krusial dalam merancang arsitektur sistem, memvalidasi keamanan, dan mengarahkan keputusan bisnis.
Selain efisiensi internal, DANA memanfaatkan AI untuk memperkuat keamanan platform melalui penerapan fitur Smart Friction. Berkolaborasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), mekanisme verifikasi berlapis ini sukses menekan aktivitas terindikasi perjudian daring di platform DANA hingga 80 persen sepanjang tahun 2025.
Transformasi teknologi ini sekaligus mengubah peta keahlian talenta digital masa depan. CTO DANA Indonesia, Norman Sasono, menggarisbawahi bahwa kendati kemampuan pengodean tetap penting, keunggulan kompetitif talenta IT kini bergeser pada pemahaman lanskap bisnis, perancangan solusi, serta kejelian dalam mengelola risiko secara menyeluruh.