Aktivitas fisik atau olahraga sangat baik untuk menjaga kebugaran tubuh. Saat bergerak aktif, jantung secara alami akan berdetak lebih cepat guna menyalurkan oksigen dan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh. Kendati demikian, setiap individu wajib memahami batas aman kapasitas kerja organ vital ini agar terhindar dari risiko cedera hingga serangan jantung.
Dokter Umum dari Rumah Sakit Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, menjelaskan bahwa salah satu acuan praktis untuk mengetahui batas maksimal denyut jantung adalah menggunakan rumus 220 dikurangi usia. Sebagai contoh, seseorang yang berusia 20 tahun memiliki estimasi denyut jantung maksimal sebesar 200 detak per menit (bpm). Ketika denyut nadi sudah mendekati angka batas tersebut, intensitas olahraga sebaiknya segera diturunkan secara bertahap.
Meski rumus ini mudah diterapkan, dr. Andi mengingatkan bahwa perhitungan tersebut hanya berupa estimasi umum. Kondisi fisik yang sebenarnya sangat dipengaruhi oleh tingkat kebugaran masing-masing individu, riwayat medis, serta konsumsi obat-obatan tertentu yang dapat memengaruhi kinerja jantung.
Di era modern, kehadiran teknologi seperti jam tangan pintar (smartwatch) sangat membantu masyarakat memantau denyut nadi secara real-time saat beraktivitas. Fitur ini berfungsi sebagai pengingat dini agar pengguna tidak memaksakan diri melewati batas kemampuan fisiknya saat berlatih keras.
Namun, masyarakat diimbau tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat wearable ini untuk diagnosis kesehatan. Dr. Andi menegaskan bahwa jam pintar hanya berfungsi menghitung jumlah denyut, tetapi tidak memiliki kemampuan mendeteksi gangguan irama jantung (aritmia) atau masalah struktural jantung lainnya yang memerlukan pemeriksaan klinis mendalam.