Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kini tengah menjalankan operasi penyelamatan krusial untuk memperpanjang durasi operasional Teleskop Swift. Observatorium antariksa yang telah mengabdi sejak 2004 ini terancam jatuh ke atmosfer Bumi akibat penurunan orbit yang terjadi lebih cepat dari proyeksi awal.

Upaya penyelamatan ini melibatkan kemitraan dengan Katalyst Space Technologies melalui peluncuran wahana robotik 'Link'. Roket Pegasus yang membawa wahana tersebut telah meluncur dari Kepulauan Marshall di Samudra Pasifik pada Jumat (4/7/2026). Wahana robotik berteknologi canggih ini dirancang khusus untuk melakukan manuver penangkapan dan mendorong kembali Teleskop Swift ke orbit yang lebih aman.

Penyebab utama penurunan orbit Swift adalah peningkatan hambatan atmosfer yang dipicu oleh aktivitas Matahari yang intens. Kondisi tersebut menyebabkan atmosfer Bumi mengembang hingga menjangkau orbit rendah tempat Swift berada. Tanpa intervensi segera, teleskop seberat 1,4 ton yang berperan krusial dalam mempelajari ledakan sinar gamma dan fenomena supernova ini diperkirakan akan hancur lebur saat memasuki atmosfer pada Oktober mendatang.

Dengan anggaran mencapai 30 juta dolar AS, NASA berupaya menaikkan posisi Swift dari ketinggian 360 kilometer ke angka sekitar 600 kilometer. Selama proses pemindahan yang dilakukan secara bertahap ini, seluruh fungsi observasi teleskop dihentikan sementara guna memastikan instrumen ilmiah di dalamnya tetap terjaga dari guncangan mekanis.

CEO Katalyst Space Technologies, Ghonhee Lee, mengakui bahwa misi ini memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. Namun, ia menekankan bahwa langkah ini jauh lebih baik dibandingkan harus membiarkan instrumen ilmiah bernilai miliaran dolar tersebut terbakar sia-sia. Jika operasi ini sukses, Swift dijadwalkan kembali beroperasi penuh pada September 2026.

Keberhasilan misi ini diproyeksikan akan menjadi standar baru dalam manajemen wahana antariksa di masa depan. NASA berharap teknologi pemulihan orbit ini dapat diadaptasi untuk menyelamatkan aset berharga lainnya, termasuk Teleskop Luar Angkasa Hubble, sekaligus menjadi solusi efektif dalam menekan jumlah sampah antariksa yang mengorbit Bumi.