Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Tegal melayangkan kritik tajam terkait masuknya promosi dan identitas tempat hiburan malam dalam ajang Turnamen Sepak Bola Amazing Tegal Wali Kota Cup 2026. Organisasi keagamaan tersebut menilai, pelibatan sektor hiburan malam dalam kegiatan olahraga yang mengatasnamakan pemerintah daerah sangat mencederai nilai edukasi dan keteladanan publik.

Ketua PDM Kota Tegal, Wahyu Heru Triyono, menegaskan bahwa esensi dari penyelenggaraan ajang olahraga seharusnya berfokus pada pembentukan karakter generasi muda. Melalui kompetisi olahraga, nilai-nilai positif seperti kedisiplinan, sportivitas, dan kerja keras mestinya ditanamkan, bukan justru menyisipkan kultur hiburan malam yang dinilai kontradiktif.

Sorotan tajam ini muncul setelah laga eksibisi pembuka turnamen tersebut kedapatan menampilkan identitas kelab malam, termasuk penampilan pemutar piringan hitam atau Disc Jockey (DJ). Menurut Heru, langkah keberatan ini diambil semata-mata untuk memproteksi moralitas anak-anak dan remaja di Kota Bahari, tanpa ada maksud menghambat iklim investasi lokal.

Heru mempertanyakan kebijakan panitia dan pemerintah daerah yang dinilai kurang sensitif terhadap persepsi publik. Ia mengingatkan bahwa aktivitas hiburan malam kerap kali beririsan dengan berbagai risiko sosial yang mengkhawatirkan, seperti potensi peredaran minuman keras, penyalahgunaan narkotika, hingga perilaku pergaulan bebas yang mengancam masa depan pemuda.

Menyikapi polemik ini, PDM mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal untuk memperketat pengawasan serta lebih selektif dalam memberikan izin operasional tempat hiburan malam. Pemerintah daerah juga diminta bersikap transparan dan responsif terhadap keluhan masyarakat terkait keberadaan tempat-tempat hiburan yang dinilai mengganggu ketertiban umum.