Peringatan hari jadi ke-70 (Lustrum XIV) SMP Negeri 6 Purworejo menjadi momentum krusial bagi peningkatan fasilitas penunjang belajar mengajar. Kepala SMPN 6 Purworejo, Wahyu Kurnia Lestari, menegaskan komitmennya untuk merealisasikan pembangunan gedung olahraga indoor baru guna mendukung aktivitas fisik serta prestasi non-akademik para siswa.

Harapan besar tersebut disampaikan Wahyu dalam acara resepsi puncak perayaan lustrum yang digelar pada Minggu (2/8/2026). Di hadapan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, ia memaparkan pentingnya pembenahan sarana prasarana sekolah, terutama setelah area gudang penyimpanan yang dibangun pada 2024 runtuh akibat guyuran hujan deras tahun lalu.

Wahyu mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari jajaran dinas terkait hingga paguyuban alumni, untuk bahu-membahu mewujudkan lapangan olahraga tertutup yang representatif. Fasilitas ini rencananya akan dibangun di area lahan bagian bawah sekolah, memanfaatkan bekas lapangan basket yang saat ini kondisinya membutuhkan pemugaran menyeluruh.

Selain menyoroti pembenahan infrastruktur, Wahyu mengapresiasi jasa para pendiri sekolah yang telah meletakkan fondasi kokoh bagi eksistensi SMPN 6 Purworejo hingga saat ini. Memasuki usia kepala tujuh, ia mengakui tantangan mempertahankan prestasi sekolah di era modern kian kompleks, namun momen lustrum ini diharapkan menjadi pemantik semangat juang yang baru bagi seluruh warga sekolah.

Merespons aspirasi tersebut, Kadisdikbud Purworejo Yudhie Agung Prihatno menyatakan dukungannya secara penuh. Yudhie memaparkan bahwa saat ini pemerintah pusat tengah menggulirkan program revitalisasi puluhan ribu sekolah secara nasional. Pihaknya berjanji akan mengawal agar SMPN 6 Purworejo bisa diprioritaskan mendapatkan alokasi dana bantuan tersebut.

Di samping mengandalkan anggaran negara, Yudhie juga menekankan pentingnya kontribusi nyata dari para alumni untuk mempercepat pembangunan fasilitas sekolah. Mengingat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) memiliki keterbatasan alokasi, kolaborasi aktif dari alumni dinilai menjadi solusi efektif dalam mendukung program-program unggulan sekolah yang tidak terkaver oleh anggaran reguler.