Inovasi teknologi kini merambah upaya pelestarian lingkungan di wilayah pesisir selatan Jawa. Memperingati Hari Mangrove Sedunia, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meresmikan Rumah Pembibitan Mangrove berbasis teknologi Electrifying Agriculture di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Langkah strategis ini mengintegrasikan pemanfaatan energi listrik dan sistem digital untuk memulihkan ekosistem pantai sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Fasilitas pembibitan modern ini dilengkapi dengan sistem sirkulasi air berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang menyerupai siklus alami pasang surut air laut. Melalui otomatisasi tersebut, proses pengairan dapat dijadwalkan dan dipantau secara digital. Inovasi ini tidak hanya menghemat penggunaan air dan mengurangi beban kerja manual, tetapi juga diyakini mampu mendongkrak tingkat keberhasilan tumbuh bibit mangrove secara signifikan.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menyatakan bahwa program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini didesain untuk memberikan dampak ganda. Selain memperkuat pertahanan pesisir dari abrasi dan mengoptimalkan penyerapan karbon demi mitigasi perubahan iklim, kehadiran pusat pembibitan ini juga membuka ruang ekonomi baru bagi warga setempat dalam memproduksi bibit mangrove berkualitas.
Pemerintah daerah mengapresiasi penuh kolaborasi hijau ini. Camat Adipala, Firadus Azy Mutia, bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, Achmad Nuralaeli, menilai sinergi berbasis teknologi ini mempercepat pemulihan ekosistem pesisir. Langkah ini juga dinilai vital dalam meningkatkan ketahanan kawasan pantai dari ancaman kerusakan lingkungan.
Keberlanjutan operasional teknologi pembibitan ini ditopang oleh keandalan pasokan listrik. Manager PLN UP3 Cilacap, Aditya Setyawan, menegaskan komitmennya untuk memastikan infrastruktur listrik di kawasan tersebut selalu optimal, dengan harapan listrik dapat memicu lahirnya berbagai inovasi ramah lingkungan lainnya di masyarakat.
Ketua Kelompok Rumah Bibit Mangrove Desa Bunton, Kasiman, menyambut baik kemudahan yang ditawarkan teknologi IoT ini. Menurutnya, pemantauan digital membuat pengelolaan bibit menjadi jauh lebih teratur dan efisien. Warga optimis, pengelolaan kawasan mangrove seluas 2,33 hektare ini tidak sekadar menjaga kelestarian alam, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan lokal.