Petani bawang merah di kawasan Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mulai beralih ke metode pertanian ramah lingkungan dengan mengadopsi teknologi perangkap hama elektrik (light trap). Langkah inovatif ini terbukti efektif dalam meminimalkan serangan organisme pengganggu tanaman sekaligus menekan ketergantungan pada penggunaan pestisida kimia.

Penerapan teknologi ini didukung oleh program electrifying agriculture dari PT PLN (Persero). Salah seorang petani setempat, Amri Ismail, menjelaskan bahwa ia memasang belasan titik lampu di area persawahan untuk memikat hama yang aktif di malam hari. Hama yang mendekati cahaya kemudian akan jatuh ke dalam wadah berisi air yang diletakkan tepat di bawah lampu, secara signifikan mengurangi populasi serangga tanpa perlu penyemprotan bahan kimia secara terus-menerus.

Menurut Amri, penggunaan perangkap cahaya ini mampu memangkas kebutuhan insektisida hingga lebih dari 50 persen. Meski membutuhkan investasi awal yang cukup besar untuk pemasangan jaringan listrik, pengeluaran tersebut cepat tertutupi oleh penghematan pembelian pestisida dan tarif listrik yang relatif hemat. Hasil panen pun diklaim lebih sehat dan aman dikonsumsi karena minim paparan residu kimia.

Selain untuk perangkap hama, aliran listrik juga dimanfaatkan kelompok tani untuk memompa air dari danau terdekat guna mengairi lahan dengan sistem penyiram otomatis (sprinkler). Pemanfaatan sistem ini membuat proses pengairan tanaman bawang merah menjadi jauh lebih praktis, efisien, dan merata.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi, memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas para petani dalam mengoptimalkan energi listrik untuk efisiensi produksi. Guna mendukung keberlanjutan sektor hortikultura ini, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga siap menyalurkan bantuan 18 unit sarana irigasi perpipaan dan perpompaan pada tahun 2026 melalui Balai Pertanian Medan, dengan rencana usulan tambahan pada tahun-tahun berikutnya.