Sektor pertanian di Kabupaten Mojokerto mulai memasuki era digitalisasi melalui penerapan teknologi berbasis internet. Petani di Desa Selotapak, Kecamatan Trawas, kini mengadopsi sistem pertanian cerdas (smart farming) menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) guna meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mendongkrak produktivitas komoditas organik mereka.

Langkah modernisasi ini terwujud atas kolaborasi akademik antara Universitas Surabaya (Ubaya) dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS). Kegiatan yang dikemas dalam Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) ini didukung penuh oleh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Idfi Setyaningrum, menjelaskan bahwa Desa Selotapak sebenarnya memiliki potensi lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas, mencapai 186,33 hektare. Namun, ketergantungan petani pada metode konvensional membuat produktivitas belum berjalan optimal serta rentan terhadap anomali cuaca dan fluktuasi harga pasar.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim akademisi mengintegrasikan sistem irigasi presisi berbasis IoT. Melalui sensor khusus yang terhubung ke jaringan internet, para petani kini dapat memantau kondisi kelembapan tanah secara real-time dan mengatur distribusi air secara otomatis sesuai dengan kebutuhan spesifik tanaman.

Sementara itu, anggota tim dari Fakultas Pertanian UWKS, Dwie Retna Suryaningsih, menambahkan bahwa implementasi teknologi ini diawali dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara bertahap. Selain pelatihan teknis irigasi otomatis, para petani juga dibekali dengan edukasi pengolahan hasil panen pascajual demi memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat setempat.