Kelompok Wanita Tani (KWT) Pangan Lestari di Kabupaten Pringsewu, Lampung, kini mulai mengadopsi sistem pertanian modern. Langkah digitalisasi ini didorong oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Lampung (Unila) melalui penerapan teknologi tepat guna untuk mengoptimalkan budidaya jamur tiram putih yang telah dirintis warga sejak tahun 2019.

Upaya modernisasi ini melibatkan pemasangan sistem pemantauan suhu dan kelembaban kumbung berbasis Internet of Things (IoT). Dengan sensor pintar ini, para petani tidak lagi meraba-raba kondisi cuaca di dalam rumah jamur secara manual. Sistem ini dipadukan dengan penyiraman otomatis yang secara signifikan memangkas tenaga kerja, terutama saat menghadapi musim kemarau yang menuntut penyiraman lebih intensif.

Tidak hanya fokus pada proses produksi, kolaborasi akademis ini juga menawarkan solusi cerdas untuk menangani limbah media tanam (log jamur). Melalui metode biokonversi menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF), limbah sisa produksi tersebut diolah menjadi pupuk organik bekas maggot (kasgot) dan pakan ternak alternatif bernilai ekonomis. Pendekatan ekonomi sirkular ini memastikan proses budidaya berjalan tanpa menyisakan sampah yang merusak lingkungan.

Inisiatif ini terwujud berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun anggaran 2026. Program bertajuk Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat ini bertujuan menjembatani kesenjangan teknologi pada pelaku usaha mikro di tingkat daerah.

Program ini digawangi oleh lintas disiplin ilmu di Unila, dipimpin oleh Nadia Maharani, S.Pt., M.Si. dari Program Studi Peternakan, serta didukung oleh Rizkima Akbar Setiawan, S.T., M.T. dari Teknik Informatika dan Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si. Keterlibatan aktif para mahasiswa dalam proyek ini juga memberikan pengalaman praktis bagi mereka dalam menerapkan teori perkuliahan langsung di tengah masyarakat.

Nadia Maharani menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang agar ramah pengguna dan sesuai dengan kapasitas KWT Pangan Lestari. Senada dengan itu, Rizkima menekankan pentingnya teknologi yang sederhana namun berdampak nyata. Melalui hilirisasi riset ini, Unila berharap model budidaya berbasis IoT dan pengelolaan limbah mandiri ini dapat direplikasi oleh kelompok tani lain di wilayah Lampung.