Kesenjangan akses pembiayaan bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menjadi persoalan klasik dalam perekonomian Indonesia. Kendati menyumbang hingga 61,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, faktanya mayoritas dari 64,2 juta pelaku UMKM di tanah air belum tersentuh layanan perbankan formal (unbankable). Hanya sekitar 30 persen di antaranya yang tercatat berhasil mengamankan fasilitas kredit dari perbankan.

Kondisi timpang inilah yang mendorong Dr. Dede Suryanto, pengajar Program Vokasi Universitas Indonesia (UI) sekaligus praktisi keuangan, untuk merumuskan strategi pembiayaan alternatif. Hasil kajian mendalam tersebut ia pertahankan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI, Salemba, Jakarta, pada Kamis (13/8/2026).

Menurut Dede, kendala administrasi, ketiadaan agunan, serta minimnya rekam jejak keuangan menjadi penghalang utama UMKM mengakses bank. Sebagai jalan keluar, ia menawarkan instrumen urun dana berbasis surat berharga atau securities crowdfunding (SCF). Melalui skema ini, pelaku usaha dapat menghimpun modal dari masyarakat luas dengan menerbitkan saham, obligasi, atau sukuk tanpa harus bergantung pada skema utang konvensional.

Meski menjanjikan, penetrasi SCF di Indonesia dinilai belum maksimal dan masih timpang secara geografis. Berdasarkan data per Maret 2025, akumulasi dana yang terhimpun secara nasional baru mencapai Rp1,49 triliun dari 503 penerbit. Ironisnya, sekitar 93,9 persen dari penerbit efek tersebut masih didominasi oleh pelaku usaha yang berpusat di Pulau Jawa.

Menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM-PLS), riset Dede menunjukkan bahwa keberhasilan ekosistem SCF sangat dipengaruhi oleh aspek pendanaan dan manajemen risiko yang dimediasi oleh faktor geografis. Karena itu, ia merekomendasikan agar pengembangan SCF tidak berpusat pada penambahan platform baru, melainkan pada penguatan potensi ekonomi lokal dan pelibatan lembaga penjaminan guna meminimalkan risiko bagi pemodal ritel.

Dede juga menambahkan bahwa optimalisasi SCF dapat menjadi dongkrak bagi kontribusi ekspor UMKM nasional yang saat ini masih stagnan di kisaran 15-16 persen. SCF dinilai berfungsi ganda sebagai jembatan investasi global sekaligus etalase produk lokal di pasar internasional. Keberhasilan industri ini, menurutnya, tidak boleh diukur dari keuntungan penyelenggara, melainkan dari seberapa luas pelaku UMKM di luar pusat kota terbantu dalam aspek permodalan.