Di tengah narasi besar mengenai ekonomi biru dan digitalisasi kemaritiman, realitas di lapangan bagi nelayan kecil masih terpaku pada teknologi usang. Ribuan nelayan bagan tancap di perairan Jawa, khususnya Pasuruan, hingga kini masih bergantung pada lampu Petromax berbahan bakar minyak tanah atau gas LPG sebagai alat bantu utama untuk memikat ikan saat melaut.

Ketergantungan ini tidak hanya membebani ekonomi nelayan melalui biaya bahan bakar yang tinggi, tetapi juga menjadi kendala dalam upaya menciptakan perikanan yang efisien dan ramah lingkungan. Selain polusi emisi dari pembakaran, spektrum cahaya Petromax yang lebar sering kali kurang efektif dalam merespons perilaku fototaksis atau kecenderungan ikan mendekati sumber cahaya.

Sebuah terobosan dari penelitian tim Universitas Brawijaya memberikan secercah harapan bagi transformasi teknologi ini. Uji operasional yang dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan lampu Light Emitting Diode (LED) bawah air dengan spektrum hijau (520–540 nanometer) mampu mendongkrak volume tangkapan hingga 80 persen. Rata-rata biomassa yang diperoleh mencapai 28,52 kilogram per trip, jauh melampaui hasil tangkapan menggunakan Petromax yang hanya berkisar di angka 15,88 kilogram.

Keunggulan LED hijau terletak pada kemampuannya mengarahkan kawanan ikan secara lebih presisi. Cahaya hijau lebih optimal menembus kolom air, sehingga ikan pelagis seperti kembung dan selar dapat terkumpul lebih cepat dalam waktu sekitar 90 menit. Selain efisiensi waktu, teknologi ini juga mampu menekan konsumsi energi operasional hingga 60-80 persen, yang secara langsung berdampak pada peningkatan margin pendapatan nelayan.

Kendati potensi teknologi ini sangat menjanjikan, proses modernisasi tidak boleh berhenti pada sekadar pembagian perangkat bantuan. Diperlukan strategi yang matang, mulai dari hilirisasi riset ke industri manufaktur domestik agar harga perangkat lebih terjangkau, hingga pengalihan subsidi bahan bakar menjadi skema investasi modal bagi alat penangkap ikan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pemerintah diharapkan mampu mengawal transformasi ini melalui pendampingan teknis yang komprehensif, mulai dari pelatihan operasional hingga pemeliharaan sistem. Peralihan dari praktik berbasis kebiasaan ke arah teknologi berbasis sains bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan kesejahteraan nelayan skala kecil tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi dan ekologi masa depan.