Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi kini menjadi kunci sukses para pembudidaya ikan di Provinsi Lao Cai dalam menghadapi tantangan perubahan cuaca ekstrem. Salah satunya dirasakan oleh Nguyen Van Thuong, pembudidaya dari komune Bao Ha, yang sebelumnya kerap merugi akibat kematian massal ikan peliharaannya. Masalah kekurangan oksigen dan fluktuasi suhu air kini teratasi setelah keluarganya berinvestasi pada sistem aerasi kolam yang modern.
Menurut Thuong, instalasi aerator tersebut membuat kadar oksigen dalam air jauh lebih stabil dan menjaga kebersihan kolam. Bahkan saat cuaca panas menyengat, alat ini mampu mencegah ikan mengalami stres lingkungan. Hasilnya, angka kematian ikan menurun drastis, pertumbuhan ikan menjadi lebih seragam, dan profitabilitas budidaya meningkat secara signifikan.
Langkah serupa juga diambil oleh Koperasi Budidaya Perikanan Hoang Kim di komune Thac Ba. Koperasi ini memasang sistem aerator khusus untuk mencegah stratifikasi suhu air selama musim panas. Selain mengandalkan mesin, mereka juga rutin melakukan pemantauan kualitas air secara berkala, mengatur padat tebar bibit, dan menerapkan protokol perawatan yang ketat untuk mengantisipasi wabah penyakit.
Wakil Direktur Koperasi Hoang Kim, Nguyen Quyet, menegaskan bahwa investasi pada teknologi aerasi tidak hanya menstabilkan ekosistem kolam, tetapi juga mendongkrak kualitas produk dan efisiensi ekonomi. Koperasi kini mulai mengadopsi proses teknis lanjutan untuk mengelola lingkungan budidaya, dengan tujuan akhir menekan biaya operasional dan menciptakan sistem perikanan berkelanjutan.
Transformasi teknologi di sektor akuakultur Lao Cai bukanlah fenomena sesaat, melainkan hasil dari konsistensi selama bertahun-tahun. Mulai dari alih teknologi keramba jaring apung berbahan High-Density Polyethylene (HDPE), pembenihan unggul, hingga metode budidaya modern kini telah dikuasai oleh para pembudidaya lokal sebagai fondasi industri perikanan berteknologi tinggi.
Data dari Departemen Pertanian setempat menunjukkan Lao Cai memiliki potensi luas perairan hingga 23.150 hektar. Saat ini, sekitar 4.964 hektar telah dimanfaatkan untuk budidaya aktif, termasuk kapasitas 435.000 meter kubik untuk budidaya ikan air dingin. Pada paruh pertama tahun ini, produksi perikanan di wilayah tersebut melampaui 9.000 ton, menunjukkan tren positif yang ditopang oleh pemeliharaan kolam dan danau seluas 5.000 hektar.
Keberhasilan ini didorong oleh meluasnya penggunaan produk biologi untuk pengelolaan lingkungan, penerapan Sistem Akuakultur Resirkulasi (RAS), serta adopsi standar VietGAP. Beberapa kawasan budidaya terpadu juga mulai terbentuk, seperti sentra ikan air dingin di Ta Van dan Ngu Chi Son, keramba jaring apung di Danau Thac Ba, serta kawasan budidaya kolam di Bao Thang dan Bat Xat.
Untuk mendukung para petambak, otoritas pertanian telah membangun jaringan pemantauan kualitas air secara langsung. Peringatan dini mengenai kondisi lingkungan yang tidak biasa atau potensi penyakit segera disebarluaskan, sehingga petambak dapat mengambil tindakan preventif dengan cepat guna meminimalkan kerugian akibat cuaca buruk.
Wakil Direktur Departemen Pertanian Provinsi Lao Cai, Nguyen Thai Binh, memproyeksikan target produksi perikanan sebesar 33.000 ton pada tahun 2030. Pemerintah berkomitmen mendorong transformasi digital dan penggunaan teknologi canggih hingga mencakup lebih dari 60 persen area budidaya intensif. Upaya ini difokuskan pada perluasan sertifikasi VietGAP, pengembangan rantai nilai, serta penciptaan sektor perikanan modern yang tangguh menghadapi perubahan iklim global.