Raksasa kesehatan hewan global, Zoetis Inc. (ZTS), tengah menghadapi tekanan pasar yang berat setelah harga sahamnya dilaporkan merosot hingga sekitar 70 persen dari titik puncak tertingginya pada Desember 2021. Penurunan tajam ini dipicu oleh kontraksi organik sebesar 11 persen pada lini bisnis perawatan hewan peliharaan di Amerika Serikat pada kuartal pertama tahun 2026, berbanding terbalik dengan tren pertumbuhan masif yang sempat dinikmati perusahaan pada tahun 2021.
Pelemahan daya beli konsumen di Amerika Serikat serta kian ketatnya persaingan dari produk baru dan versi generik disinyalir menjadi penyebab utama lesunya kinerja Zoetis. Kendati demikian, emiten ini masih mencatatkan yield arus kas bebas (free cash flow yield) yang solid di kisaran 7,3 persen, angka tertinggi sejak perusahaan melantai di bursa pada 2013. Untuk keseluruhan tahun 2026, manajemen Zoetis tetap optimistis dengan menargetkan pertumbuhan organik yang moderat antara 2 hingga 5 persen.
Di sisi lain, industri kesehatan hewan secara makro masih menunjukkan prospek cerah. Pasar otomasi laboratorium veteriner diproyeksikan tumbuh dari 1,36 miliar dolar AS pada tahun 2026 menjadi 1,9 miliar dolar AS pada tahun 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) mencapai 8,7 persen. Perkembangan ini didorong oleh integrasi kecerdasan buatan (AI), kebutuhan diagnosis cepat, serta adopsi alur kerja robotik dalam perawatan hewan presisi.
Di tengah upaya pemulihan kinerja bisnisnya, Zoetis juga harus menghadapi tantangan hukum baru. Kantor Hukum Howard G. Smith baru-baru ini mengumumkan pengajuan gugatan perwakilan kelompok (class action) yang menargetkan beberapa perusahaan, termasuk Zoetis, Calix, AeroVironment, dan Lucid Group. Gugatan tersebut dilayangkan atas dugaan penyampaian pernyataan palsu atau menyesatkan yang berdampak pada kerugian para pemegang saham.