Tim Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat telah menyalurkan 3.307 layanan medis kepada warga yang terdampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Misi kemanusiaan yang diinisiasi oleh KR-BNN NTB ini telah berjalan selama enam hari hingga akhir Agustus 2026, menjangkau para pengungsi di berbagai wilayah terdampak.

Ketua Koordinator Solidaritas KR-BNN NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menjelaskan bahwa tingginya angka kunjungan medis ini mencerminkan urgensi kebutuhan layanan kesehatan di lokasi bencana. Menurutnya, penanganan tidak hanya difokuskan pada satu titik posko statis, melainkan juga secara aktif menjangkau pemukiman warga melalui layanan kesehatan bergerak (mobile).

Gempa tektonik yang mengguncang pada pertengahan Agustus 2026 tersebut berdampak signifikan pada tujuh kabupaten di NTT, termasuk wilayah Manggarai dan Sikka. Bencana alam ini mengakibatkan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi ke ratusan titik penampungan sementara, yang memicu kerentanan terhadap penularan berbagai penyakit akibat penurunan kualitas lingkungan.

Guna mengantisipasi krisis kesehatan tersebut, Pemerintah Provinsi NTB mengerahkan puluhan relawan medis yang terbagi dalam dua gelombang. Formasi tim ini diperkuat oleh puluhan dokter dan perawat, apoteker, psikolog untuk penanganan trauma, hingga tenaga ahli epidemiologi yang bertugas memantau potensi kejadian luar biasa (KLB).

Data posko mencatat puncak layanan kesehatan terjadi pada 22 Agustus sebelum akhirnya melandai. Sebagian besar keluhan yang ditangani oleh tim medis didominasi oleh penyakit otot (myalgia), gangguan pencernaan (dispepsia), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan hipertensi, yang kerap menyerang pengungsi di tenda darurat.

Selain memberikan pengobatan langsung, tim kesehatan juga melakukan pemantauan ketat terhadap potensi wabah penyakit menular seperti diare dan pneumonia. Upaya preventif ini diintegrasikan dengan koordinasi bersama tim medis dari Universitas Airlangga (Unair) serta rujukan darurat ke RS Ruteng untuk penanganan medis lanjutan yang lebih kompleks.