Tingkat konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 96,7% penduduk usia di bawah lima tahun tercatat belum memenuhi standar asupan nutrisi harian yang dianjurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Data tersebut sejalan dengan temuan bahwa hanya 3,3% masyarakat Indonesia yang disiplin mengonsumsi minimal lima porsi buah dan sayur setiap hari dalam seminggu. Lebih lanjut, sekitar 67,5% penduduk mengaku hanya mengonsumsi satu hingga dua porsi, bahkan 11,8% di antaranya sama sekali tidak mengonsumsi sayur atau buah sepanjang minggu.

Para ahli menilai fenomena ini dipicu oleh pergeseran pola makan, di mana buah dan sayur hanya dianggap sebagai pelengkap, bukan makanan utama. Selain itu, maraknya konsumsi minuman olahan tinggi gula, faktor keterbatasan akses, serta rendahnya daya beli menjadi penghambat utama bagi banyak keluarga untuk mengakses produk segar.

Padahal, urgensi mengonsumsi buah dan sayur sangat krusial bagi ketahanan tubuh. Riset dari Harvard menegaskan bahwa pola makan kaya nabati mampu menekan risiko penyakit jantung, stroke, serta menjaga stabilitas tekanan darah. Bahkan, konsumsi rutin buah dan sayur terbukti memberikan perlindungan terhadap potensi kanker, termasuk penurunan risiko kanker payudara pada remaja perempuan sebesar 25%.

Guna menekan angka penyakit tidak menular, WHO merekomendasikan asupan 400 hingga 600 gram buah dan sayur setiap hari. Edukasi mengenai pentingnya gizi seimbang menjadi langkah mendesak agar masyarakat dapat beralih ke pola makan yang lebih sehat demi meningkatkan kualitas hidup jangka panjang.