Nama Djarum selama puluhan tahun memang identik dengan kejayaan industri rokok kretek. Namun, di balik aroma tembakau yang melegenda, keluarga Hartono berhasil membangun salah satu kerajaan bisnis paling berpengaruh di Asia Tenggara. Transformasi ini menjadikan Djarum sebagai potret diversifikasi bisnis yang sangat sukses, di mana sektor non-tembakau kini justru menjadi penopang utama ekonomi grup.

Akar bisnis ini bermula pada tahun 1951 ketika Oei Wie Gwan mengakuisisi pabrik rokok NV Murup di Kudus, yang kemudian berganti nama menjadi Djarum. Sepeninggal sang pendiri pada 1963, estafet kepemimpinan beralih ke tangan duo bersaudara, Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Di bawah visi mereka, Djarum bertransformasi dari perusahaan lokal menjadi pemain global melalui modernisasi teknologi produksi dan ekspansi pasar ekspor.

Titik balik paling krusial dalam sejarah korporasi ini terjadi pasca-krisis moneter 1998. Melalui akuisisi strategis di sektor perbankan, keluarga Hartono berhasil menguasai PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Keputusan berani ini mengubah wajah grup secara drastis, menjadikan jasa keuangan sebagai tulang punggung laba perusahaan yang melampaui kontribusi bisnis tembakau konvensional.

Kini, melalui PT Dwimuria Investama Andalan sebagai kendaraan investasi utama, gurita bisnis Djarum telah merambah ke berbagai lini masa depan. Di sektor infrastruktur digital, mereka mengendalikan PT Sarana Menara Nusantara (TOWR) dan IBST. Sementara di ekosistem ekonomi digital, grup ini menjadi pemain kunci lewat PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) serta berbagai investasi startup melalui GDP Venture.

Tak berhenti di situ, Djarum juga meluaskan pengaruhnya ke sektor gaya hidup dan industri kreatif. Mulai dari perusahaan elektronik Polytron, ekspansi ke sektor FMCG melalui Savoria Group, hingga terjun ke industri olahraga internasional dengan mengakuisisi klub sepak bola Italia, Como 1907. Langkah ini melengkapi dedikasi panjang mereka dalam dunia olahraga yang sebelumnya telah dibangun melalui pembinaan atlet di PB Djarum.

Meski menghadapi tantangan regulasi cukai tembakau yang semakin ketat dan persaingan sengit di kancah e-commerce, Djarum Group memiliki fundamental keuangan yang sangat solid. Dengan mengombinasikan bisnis berbasis arus kas stabil dan investasi di sektor pertumbuhan tinggi, keluarga Hartono telah menempatkan posisi mereka sebagai pilar utama sekaligus penggerak ekonomi strategis Indonesia hingga hari ini.