Pemerintah Indonesia terus memacu percepatan adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dalam negeri. Sektor teknologi ini dinilai sangat prospektif lantaran tidak bergantung pada pembangunan infrastruktur fisik skala masif, melainkan bertumpu pada optimalisasi talenta digital nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat membuka ajang Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan. Airlangga menekankan bahwa industri digital membuka peluang yang inklusif dan adil bagi semua pihak.

Menurut Airlangga, industri ini tidak didominasi oleh kelompok konglomerasi tertentu karena sifatnya yang terbuka. Berbeda dengan industri manufaktur konvensional yang membutuhkan investasi bernilai ratusan miliar dolar AS untuk mendirikan pabrik fisik, sektor AI dan digital lebih menitikberatkan pada keahlian dan kapasitas berpikir kreatif.

Kendati demikian, Airlangga mengingatkan bahwa efektivitas digitalisasi wajib ditopang oleh kesiapan infrastruktur energi yang tangguh. Sebagai negara dengan kekayaan alam melimpah, Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa sumber energi domestik, mulai dari batu bara, hidro, hingga panas bumi (geothermal), yang menjadi pilar penting bagi kedaulatan ekonomi nasional.

Guna mendukung ketahanan energi di era digital, pemerintah juga melirik potensi pengembangan panel surya di tingkat perdesaan serta rencana interkoneksi jaringan listrik antarpulau melalui kabel bawah laut. Langkah strategis ini diharapkan dapat mengintegrasikan pasokan energi secara merata untuk menyokong kebutuhan ekosistem teknologi masa depan.