Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp18.200 per dolar AS memaksa Bank Indonesia (BI) mengambil langkah agresif dengan mengerek suku bunga acuan hingga menyentuh 5,75 persen pada Juli 2026. Kebijakan moneter ketat ini berimbas langsung pada sektor perbankan, memicu kenaikan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) hingga mencapai 8,81 persen pada Juni 2026. Kondisi ini menuntut industri perbankan untuk beradaptasi dengan cepat guna mengantisipasi pembengkakan biaya dana (cost of fund) yang dapat menggerus margin keuntungan.

Tekanan likuiditas mulai membayangi sektor keuangan nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per semester I-2026, margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) perbankan menyusut menjadi 4,34 persen dari sebelumnya 4,48 persen pada periode yang sama tahun lalu. Begitu pula dengan tingkat pengembalian aset (Return on Assets/ROA) yang turun tipis ke level 2,47 persen. Meski demikian, intermediasi perbankan tetap kokoh dengan penyaluran kredit yang tumbuh solid sebesar 12,67 persen secara tahunan menjadi Rp9.081 triliun, diiringi kualitas kredit yang terjaga baik.

Menanggapi dinamika ini, pengamat perbankan Ryan Kiryanto menekankan pentingnya efisiensi operasional dan diversifikasi sumber dana. Menurutnya, bank harus mengurangi ketergantungan pada deposito mahal dan berfokus pada penghimpunan dana murah (Current Account Saving Account/CASA) melalui penguatan layanan digital. Mengingat terbatasnya ruang untuk menaikkan suku bunga kredit di tengah perlambatan dunia usaha, pengelolaan biaya dana menjadi kunci utama dalam mempertahankan profitabilitas lembaga keuangan.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk merespons tantangan ini dengan memperkuat portofolio pendapatan berbasis komisi (fee-based income) dan menghindari perang suku bunga simpanan. Melalui optimalisasi layanan digital D-Bank PRO serta pengembangan bisnis wealth management, Danamon berhasil menjaga kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross di level rendah 1,68 persen per Juni 2026, serta mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 12 persen secara tahunan.

Strategi serupa diterapkan oleh OCBC yang memfokuskan pertumbuhan pada sektor CASA untuk dijadikan rekening operasional utama nasabah. Langkah ini membuahkan hasil dengan peningkatan porsi dana murah menjadi 60,5 persen dari total DPK yang mencapai Rp239,93 triliun. Sementara itu, KB Bank memilih prioritas pada kualitas ketimbang kuantitas pendanaan dengan membangun ekosistem nasabah yang loyal guna mengamankan likuiditas jangka panjang di tengah ketatnya persaingan pasar keuangan.