Kinerja karyawan yang merosot kerap kali dinilai secara sepihak sebagai bentuk penurunan motivasi kerja. Padahal, penurunan produktivitas tersebut bisa jadi merupakan indikasi awal adanya gangguan kesehatan tersembunyi yang selama ini diabaikan oleh pekerja maupun manajemen perusahaan.

Korelasi penting antara kondisi medis pekerja dan performa perusahaan ini mengemuka dalam diskusi kesehatan yang digelar oleh Rumah Sakit Columbia Asia Medan. Dalam forum tersebut, Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi, dr. Muhammad Rizqi Nasution, MKK, SpOk, menjelaskan bahwa kedokteran okupasi memegang peran krusial dalam mengidentifikasi risiko kerja serta merancang program perlindungan kesehatan karyawan.

Menurut dr. Rizqi, risiko di tempat kerja tidak hanya bersumber dari faktor lingkungan seperti kebisingan dan debu, tetapi juga dari masalah ergonomi harian. Kebiasaan duduk lebih dari dua jam tanpa jeda, misalnya, rentan memicu nyeri pinggang dan gangguan otot. Untuk meminimalkan risiko ini, perusahaan diimbau menerapkan jeda peregangan setiap dua jam dan menyesuaikan fasilitas kerja agar lebih ergonomis.

Selain kendala fisik, ancaman kesehatan yang paling berbahaya sering kali datang dari gangguan metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi yang berkembang tanpa gejala klinis yang mencolok. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi diabetes pada penduduk usia produktif menunjukkan tren kenaikan hingga mencapai 2,2 persen. Penyakit-penyakit ini secara perlahan dapat menurunkan konsentrasi dan stamina kerja.

Sebagai langkah antisipasi, dr. Rizqi menyarankan agar program pemeriksaan kesehatan karyawan (medical check-up) tidak sekadar menjadi rutinitas formalitas. Pemeriksaan harus disesuaikan secara spesifik dengan risiko jenis pekerjaan agar memberikan dampak proteksi yang nyata. Investasi pada kesehatan pekerja dinilai sangat berharga bagi keberlanjutan bisnis perusahaan.

Sementara itu, CEO Rumah Sakit Columbia Asia Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, menegaskan komitmen institusinya untuk mendukung dunia usaha melalui penyediaan layanan kesehatan kerja yang komprehensif. Melalui deteksi dini penyakit metabolik dan pendampingan medis yang tepat, diharapkan produktivitas pekerja dapat terus terjaga secara optimal.