Kawasan ikonik Jalan Tunjungan di Surabaya kembali diramaikan oleh inovasi bisnis baru yang kreatif. Kali ini, tren photo booth bergaya halaman koran (photo booth newspaper) tengah menjadi sorotan hangat. Menariknya, konsep visual estetis ini tidak lahir begitu saja secara lokal, melainkan diadaptasi dari tren fotografi populer di Tiongkok yang kemudian disesuaikan dengan denyut budaya lokal Surabaya.

Salah satu pelopor yang sukses menangkap peluang emas ini adalah jenama Photowi. Pemilik usaha ini mengaku mendapatkan inspirasi awal dari buah hatinya yang mengamati kepopuleran format foto koran tersebut di Tiongkok. Melihat potensi pasar yang besar di tengah menjamurnya penyedia jasa photo booth konvensional di sepanjang Jalan Tunjungan, ia memutuskan untuk mengeksekusi ide unik ini sebagai strategi pembeda.

Kendati konsepnya terlihat sederhana—yakni mencetak foto pelanggan ke dalam templat koran klasik—proses produksinya memerlukan perhatian ekstra pada detail. Untuk menghasilkan tampilan visual yang autentik, pihak pengelola tidak menggunakan kertas biasa. Mereka sengaja mendatangkan kertas impor khusus demi mendapatkan tekstur kasar dan karakter cetakan yang menyerupai surat kabar asli.

Daya tarik utama dari bisnis ini terletak pada personalisasi lokal yang ditawarkan. Alih-alih hanya menyediakan desain koran generik, Photowi menyisipkan elemen identitas Jalan Tunjungan dalam bingkai foto mereka. Strategi ini rupanya sangat diminati oleh pengunjung, terutama wisatawan yang ingin mengabadikan momen kunjungan mereka dengan penanda lokasi yang khas.

Di tengah ketatnya persaingan bisnis studio foto instan di Surabaya, diferensiasi produk menjadi kunci bertahan. Dengan menawarkan tarif terjangkau sebesar Rp35.000 per sesi untuk seluruh varian tema, bisnis adaptif ini membuktikan bahwa tren luar negeri dapat bertransformasi menjadi komoditas ekonomi kreatif lokal yang bernilai tinggi sekaligus membawa pulang kenangan otentik tentang Kota Pahlawan.