Momen pergantian tahun baru Islam di bulan Muharram acap kali menjadi momentum refleksi diri yang mendalam bagi umat Muslim. Bulan suci ini bukan sekadar penanda kalender, melainkan sebuah kesempatan emas untuk mengevaluasi perjalanan spiritual dan personal guna bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Dalam sebuah kajian yang digelar oleh LPPOM di Global Halal Center (GHC), Ustaz Suhendi Alkhathab selaku Da’i Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus akademisi Universitas Fatahillah, menegaskan bahwa makna hijrah melampaui perpindahan fisik. Menurutnya, esensi hijrah yang sesungguhnya adalah ikhtiar berkelanjutan untuk memperbaiki kualitas diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Merujuk pada Surah Al-Furqan ayat 74, Ustaz Suhendi menjelaskan bahwa ketakwaan seorang hamba tidak hanya diukur dari kesalehan ritual individual, melainkan juga dari kemampuannya membina hubungan harmonis di dalam keluarga. Menghadirkan ketenangan dalam rumah tangga serta mendidik keturunan menjadi penyejuk mata merupakan cerminan nyata dari kualitas spiritual seseorang.

Lebih lanjut, kajian ini menyoroti relevansi kesehatan mental yang kini kian disadari oleh masyarakat modern. Ustaz Suhendi memaparkan bahwa kesehatan mental sejati tidak sekadar merujuk pada ketiadaan gangguan psikologis, melainkan hadirnya rasa cukup (qana’ah) dan syukur atas segala ketetapan sang Pencipta. Sikap ini dinilai mampu meredam kecemasan akibat kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

Kekuatan mental ini diyakini berakar kuat pada kesehatan spiritual seseorang. Mengoptimalkan ibadah seperti shalat tahajud di sepertiga malam terakhir, shalat sunnah rawatib, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak zikir merupakan langkah-langkah praktis untuk memelihara kestabilan emosi dan ketenangan jiwa di tengah terpaan ujian hidup.

Di sisi lain, membangun kedekatan emosional (emotional bonding) di dalam keluarga menjadi fondasi krusial yang tidak boleh diabaikan. Hubungan yang hangat dapat dibangun melalui interaksi sederhana namun konsisten, seperti menyisihkan waktu luang untuk makan bersama tanpa gangguan gawai, saling mendengarkan keluh kesah, serta melakukan ibadah secara berjamaah di rumah.

Pada akhirnya, spirit Muharram diharapkan menjadi titik awal perubahan nyata bagi setiap individu untuk membangun keluarga yang tangguh. Melalui sinergi antara kesehatan spiritual yang kokoh dan keharmonisan domestik, rumah tangga dapat bertransformasi menjadi tempat perlindungan yang paling menenangkan sekaligus penuh berkah.