Tren penurunan harga minyak mentah global terus berlanjut hingga mencapai posisi terendah yang tercatat sebelum meletusnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari lalu. Pada penutupan perdagangan awal pekan, minyak mentah Brent menyentuh angka 71,99 dolar AS per barrel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di level 68,55 dolar AS per barrel.
Koreksi harga ini dipicu oleh banjirnya pasokan di pasar internasional menyusul langkah Arab Saudi yang memberikan potongan harga jual resmi terbesar sejak 2003 untuk pasar Asia. Langkah agresif ini dinilai oleh sejumlah analis sebagai persiapan para produsen energi di kawasan Teluk untuk menghadapi potensi perang harga yang lebih sengit di masa mendatang.
Di sisi lain, OPEC+ telah menyepakati penambahan target produksi sebesar 188.000 barrel per hari yang mulai berlaku efektif pada Agustus. Pemulihan arus lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga menjadi faktor kunci yang menormalisasi distribusi minyak global, setelah sebelumnya terhambat oleh eskalasi militer yang mengganggu rantai pasok energi dunia.
Meskipun upaya diplomatik antara AS dan Iran belum menunjukkan kemajuan signifikan, gencatan senjata selama 60 hari yang kini berjalan telah memberikan ruang bagi pemulihan logistik energi. Selain itu, normalisasi rute pelayaran melalui Terusan Suez oleh perusahaan besar seperti Maersk dan Hapag-Lloyd diprediksi akan semakin menekan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi distribusi dari Asia menuju Eropa.
Para analis pasar memperkirakan bahwa peluang pemulihan harga dalam waktu dekat cukup terbatas mengingat melimpahnya cadangan yang beredar. Namun, penurunan harga ini diproyeksikan akan merangsang peningkatan permintaan konsumsi di tengah upaya pemulihan ekonomi global yang sedang berlangsung.