Membangun usaha di negeri orang tentu bukan perkara mudah. Meski jumlah investor asal Vietnam di Prancis belum tergolong masif, tren kepemilikan bisnis oleh warga Vietnam di negara dengan populasi hampir 70 juta jiwa ini terus menunjukkan geliat positif. Prancis, yang selama tujuh tahun terakhir mempertahankan posisinya sebagai destinasi utama investor asing menurut laporan EY 2026, kini mulai dilirik oleh para pengusaha kreatif asal Asia Tenggara.
Vu Nguyet Anh, pendiri layanan perjalanan COvivu, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar bukanlah minimnya ide bisnis, melainkan keharusan untuk memulai segalanya dari nol. Pengalaman panjangnya berbisnis selama tujuh tahun di Vietnam tidak secara otomatis memberikannya reputasi di pasar Prancis. Ia harus menavigasi kompleksitas sistem administrasi, hukum, pajak, hingga asuransi lokal yang menuntut adaptasi total dari seorang pendatang.
Senada dengan itu, Phan Viet Phong, pemilik jaringan restoran Obobun, menekankan pentingnya disiplin operasional dalam menghadapi iklim ekonomi yang menantang. Di tengah tekanan inflasi dan kenaikan biaya operasional yang memaksa banyak pelaku usaha gulung tikar, ia justru melihat peluang melalui akuisisi bisnis yang sudah ada. Baginya, kunci keberhasilan bukan sekadar menjual produk unik, melainkan ketajaman dalam mengontrol biaya bahan baku dan menjaga standar tim yang ketat.
Pemerintah Prancis sendiri menyadari adanya hambatan bagi investor asing, terutama terkait ketidaktahuan akan prosedur hukum Eropa. Sebagai respons, berbagai langkah penyederhanaan birokrasi dan dukungan terhadap inovasi telah diterapkan untuk menarik talenta global. Dengan ekosistem yang stabil dan modern, Prancis kini diposisikan sebagai pintu gerbang strategis bagi bisnis asal Vietnam untuk menjangkau pasar Eropa yang lebih luas.
Bagi para calon investor yang berminat mengikuti jejak ini, riset mendalam menjadi syarat mutlak. Membangun kredibilitas di komunitas lokal, memahami kebutuhan pasar yang spesifik, serta menyiapkan cadangan finansial untuk operasional 6 hingga 12 bulan pertama adalah langkah krusial sebelum memutuskan untuk menanamkan modal di negara tersebut.