PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), entitas bisnis di bawah naungan Grup Sinar Mas, terus mematangkan langkah strategis untuk menekan ketergantungan pada komoditas fosil. Langkah ini diwujudkan melalui akselerasi diversifikasi ke sektor nonbatu bara demi menjaga resiliensi kinerja perusahaan di tengah fluktuasi pasar komoditas global.

Berdasarkan analisis dari KB Valbury Sekuritas, perseroan kini mengandalkan empat pilar bisnis utama, yaitu batu bara, infrastruktur digital dan teknologi, bahan kimia, serta energi baru dan terbarukan (EBT). Meski demikian, sektor batu bara yang dijalankan melalui anak usahanya, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Pada tahun 2025, sektor ini menyumbang hingga 89,1 persen dari total pendapatan konsolidasian perseroan yang mencapai US$ 2,79 miliar, dengan volume produksi mencapai 57,2 juta ton yang menempatkan DSSA sebagai produsen batu bara terbesar keempat di tanah air.

Kendati demikian, normalisasi harga komoditas global dan penurunan volume produksi pada kuartal pertama tahun 2026 mulai menekan profitabilitas perseroan. Hal ini terlihat dari penurunan margin laba kotor menjadi 35,6 persen dari sebelumnya 39 persen pada periode yang sama tahun lalu. Selain itu, margin laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) juga terkoreksi menjadi 16,9 persen dari angka sebelumnya sebesar 20,3 persen. Kondisi inilah yang mendorong manajemen untuk mempercepat kontribusi dari sektor non-komoditas.

Untuk meminimalisasi dampak volatilitas batu bara, DSSA menargetkan kontribusi dari segmen teknologi dan digital dapat meningkat hingga 19 persen pada akhir tahun 2026. Rencana ekspansi ini akan ditopang oleh pengembangan layanan broadband MoraRepublic serta operasionalisasi 25 fasilitas pusat data berlabel SM+. Peluang pertumbuhan sektor ini semakin terbuka lebar setelah perseroan memenangkan lelang spektrum frekuensi baru-baru ini.

Sementara itu, pada lini energi hijau, DSSA menjalin kemitraan strategis dengan FirstGen Geothermal Indonesia untuk menggarap proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi berkapasitas 440 MW. Perseroan juga tengah membangun pabrik panel surya berkapasitas 1 GW per tahun di Kawasan Industri Kendal. Kendati pergerakan saham DSSA sempat mengalami tekanan akibat masuk dalam klasifikasi pengawasan konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC) pasca-aksi korporasi pemecahan saham (stock split) dengan rasio 1:25 pada April 2026, kondisi fundamental perseroan dinilai tetap kokoh untuk jangka panjang.