Upaya percepatan hilirisasi industri kelapa sawit di Indonesia dinilai tidak akan mencapai hasil optimal jika permasalahan di sektor hulu belum diselesaikan secara mendasar. Keberlanjutan industri sawit nasional sangat bergantung pada efisiensi penggunaan sumber daya, peningkatan produktivitas kebun, serta efektivitas pengelolaan lingkungan sejak awal proses produksi.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, saat melakukan peninjauan ke fasilitas pabrik kelapa sawit berbasis teknologi Steamless Palm Oil Technology (SPOT) di Kampus INSTIPER Yogyakarta. Fasilitas Teaching Plant SPOT ini merupakan bentuk percontohan riset hasil kerja sama antara Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) dan PT Nusantara Green Energy (PT NGE) yang telah dikembangkan sejak 2022 dengan dukungan pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Menteri PPN menilai kehadiran inovasi SPOT memberikan arah baru bagi strategi hilirisasi komoditas kelapa sawit yang diamanatkan oleh pemerintah. Menurutnya, pembenahan di tingkat kebun (on-farm) serta penerapan teknologi pengolahan yang efisien menjadi syarat mutlak agar produk turunan sawit Indonesia memiliki daya saing tinggi dan berstandar ramah lingkungan di pasar global.
Perwakilan PT NGE, Petrus Tjandra, memaparkan bahwa teknologi SPOT menawarkan efisiensi signifikan dibandingkan pabrik kelapa sawit konvensional. Pengolahan SPOT hanya memproses brondolan buah sawit, sementara janjang kosong tetap ditinggalkan di perkebunan sebagai pupuk organik alami. Selain itu, sistem ini meniadakan stasiun perebusan (sterilizer), sehingga menekan konsumsi air dan energi secara drastis serta bebas dari limbah cair kelapa sawit.
Tak hanya unggul dari sisi kelestarian lingkungan dan penekanan emisi karbon, minyak sawit yang diproduksi melalui metode SPOT juga mempertahankan nutrisi alami seperti Vitamin A, Vitamin E, dan antioksidan. Potensi nutrisi tinggi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung program pemenuhan gizi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor Vitamin A.
Merespons berbagai keunggulan tersebut, Bappenas mendorong penguatan konsep produksi minyak sawit nasional yang berorientasi pada prinsip hemat air, hemat energi, rendah emisi karbon, namun kaya akan nutrisi. Integrasi antara inovasi akademis dan kebutuhan industri ini diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi transformasi kelapa sawit Indonesia yang lebih berkelanjutan.