Panggung pementasan seni Galeri Indonesia Kaya kembali menjadi saksi keindahan warisan budaya Nusantara. Seniman sekaligus etnomusikolog asal Kalimantan Utara, Uyau Moris, memukau penonton lewat pergelaran seni lintas media bertajuk "Borneo Sound of Heritage: Vibrasi Dawai Dayak". Pertunjukan ini menempatkan instrumen petik khas suku Dayak, sape, sebagai poros utama narasi yang menghubungkan kearifan lokal dengan ritme kehidupan modern.
Melalui racikan aransemen kontemporer yang memadukan dinamika musik modern serta ekspresi gerak tari, Uyau Moris mengajak audiens menyelami perjalanan spiritual dan kultural Pulau Borneo. Narasi pertunjukan bergulir mulai dari keheningan rimba raya yang sakral hingga proses perjumpaan budaya dengan era digital. Dalam pementasan ini, sape tidak lagi diposisikan sekadar sebagai alat musik pelengkap, melainkan instrumen utama yang mendominasi melodi tanpa mengikis jiwa magis tradisinya.
Latar belakang akademis Uyau Moris dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memberikan kedalaman tersendiri pada setiap karyanya. Berbekal keahlian di bidang etnomusikologi serta pengkajian dan penciptaan musik, ia secara konsisten merawat tradisi Dayak melalui pendekatan musikologis modern. Dedikasi tersebut diwujudkan tidak hanya melalui panggung pertunjukan langsung, tetapi juga lewat jalur produksi musik independen yang didistribusikan secara global.
Kiprah Uyau Moris dalam memperkenalkan alunan sape di kancah internasional terbilang amat luas. Ia telah melanglang buana membawa nama Indonesia di berbagai festival budaya dunia, seperti di Prancis, Belanda, Amerika Serikat, Jepang, hingga Ekuador. Lewat pementasan "Borneo Sound of Heritage", Moris berhasil membuktikan bahwa kebudayaan daerah mampu bersinergi dengan zaman sekaligus menjadi medium efektif untuk diplomasi budaya antarbangsa.