Pasar saham Wall Street tengah menyoroti fenomena anjloknya harga saham Micron Technology (MU) sebesar 22 persen dari level tertinggi sepanjang masa. Padahal, produsen chip memori tersebut baru saja merilis laporan keuangan kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar, serta memberikan proyeksi positif terkait tingginya permintaan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI).

Data dari BigGo Finance mencatat saham Micron terkoreksi ke level USD 984,75 setelah sebelumnya sempat menyentuh harga puncak di USD 1.255. Penurunan ini mengikis habis keuntungan yang sempat diraih perusahaan pasca-pengumuman kinerja yang solid pada 24 Juni lalu. Analis strategi dari 22V Research, Jeff Jacobson, menilai fenomena ini sebagai sinyal klasik di pasar saham, di mana tren kenaikan harga tidak mampu berlanjut meskipun didukung sentimen positif.

Tekanan jual yang terjadi disinyalir akibat adanya kekhawatiran baru di sektor semikonduktor. Rencana Meta Platforms yang tidak akan memperluas pembangunan pusat data di atas proyeksi awal telah memicu spekulasi mengenai titik jenuh pengeluaran perusahaan-perusahaan teknologi besar (hyperscaler). Selain itu, muncul sentimen negatif dari laporan bahwa Apple mulai mempertimbangkan penggunaan chip memori asal Tiongkok untuk efisiensi biaya, yang berpotensi menekan daya tawar perusahaan chip domestik Amerika Serikat.

Meski saat ini sedang terkoreksi, performa Micron sepanjang tahun 2026 masih mencatatkan kenaikan impresif sebesar 250 persen, dengan lonjakan hampir 700 persen dalam dua belas bulan terakhir. Namun, volatilitas yang terjadi pada raksasa teknologi ini diperkirakan dapat berdampak pada psikologi investor di pasar modal Indonesia.

Para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu mewaspadai efek domino dari penurunan ini. Mengingat tingginya korelasi antara pergerakan saham teknologi global dengan pasar domestik, koreksi pada Micron berpotensi memberikan sentimen negatif bagi emiten sektor teknologi dan digital yang tercatat di bursa nasional.