Penerapan teknologi digital kini mulai merambah sektor kelautan Indonesia. Dalam forum PAIR Annual Meeting 2026 yang digelar di Hotel Unhas and Convention, Makassar, Rabu (22/7/2026), konsorsium peneliti lintas kampus memaparkan inovasi pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi geospasial untuk mendorong efisiensi serta keberlanjutan budidaya rumput laut nasional.

Kolaborasi riset ini digawangi oleh para akademisi dari berbagai institusi ternama, termasuk Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Monash University Australia. Prof. Nurjannah Nurdin, pakar Sistem Informasi Geografis (GIS) dan Penginderaan Jauh dari Unhas, menjelaskan bahwa integrasi teknologi digital ini dirancang untuk mendongkrak produktivitas nelayan lokal tanpa merusak ekosistem pesisir.

Dalam pelaksanaannya, tim peneliti mengolah lebih dari 7.700 foto udara hasil pemetaan drone di wilayah pesisir Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Data spasial tersebut dikombinasikan dengan analisis data lingkungan historis selama satu dekade guna menyusun model prediktif kondisi perairan secara hampir waktu nyata (near real-time). Langkah ini mempermudah pembudidaya menentukan waktu tanam yang optimal berdasarkan dinamika suhu dan cuaca.

Riset lapangan ini juga melibatkan survei digital terhadap 331 pembudidaya setempat. Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa penerapan metode budidaya tali ganda (double line) mampu mendongkrak hasil panen hingga 60 hingga 70 persen dibanding metode tali tunggal konvensional. Inovasi metode fisik ini membuktikan bahwa peningkatan hasil produksi dapat dicapai secara efisien tanpa harus memperluas lahan budidaya.

Hasil akhir dari penelitian ini akan disalurkan melalui platform informasi digital untuk pembudidaya serta dasbor khusus bagi pemerintah (government dashboard). Melalui sistem ini, pemerintah dapat merumuskan kebijakan berbasis data spasial yang akurat, sementara pembudidaya memperoleh akses informasi krusial seperti tinggi gelombang dan kualitas air. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi era smart aquaculture di Indonesia.