Kehilangan penglihatan secara total pada tahun 2018 sempat membawa Imam Bahroni (37) ke titik terendah dalam hidupnya. Akibat kelemahan saraf mata saat berusia 28 tahun, pria asal Kediri ini sempat menarik diri dari lingkungan sosial dan mengurung diri. Namun, dorongan kuat untuk menafkahi keluarga dan masa depan sang buah hati menjadi pemantik baginya untuk bangkit dari keterpurukan.
Langkah awal kebangkitan Imam dimulai saat ia memutuskan bergabung dengan National Paralympic Committee (NPC) pada tahun 2023. Setahun setelahnya, ia mulai menekuni cabang olahraga blind judo. Kini, di sela-sela kesibukannya menimba ilmu terapi pijat di Malang, Imam tercatat aktif sebagai atlet blind judo yang memperkuat kontingen Kota Kediri.
Perjalanan Imam di dunia olahraga beladiri ini tidaklah instan. Awalnya, pihak keluarga sempat mengkhawatirkan risiko cedera fisik dari olahraga ekstrem tersebut. Dukungan penuh baru mengalir setelah mereka melihat langsung kiprah Imam dalam ajang seleksi Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Solo 2025, yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi.
Ditemui di sela acara Training of Trainers (ToT) Penggerak Olahraga Disabilitas yang diinisiasi Kemenpora RI di Kediri, Imam menegaskan target berikutnya untuk menembus Peparnas 2028. Lebih dari sekadar prestasi pribadi, ia juga bertekad membantu membina bibit-bibit atlet disabilitas muda agar mereka berani tampil dan tidak lagi merasa malu dengan keterbatasan yang dimiliki.