Menjadi pewarta olahraga tidak sebatas mencatat pergerakan papan skor atau melaporkan hasil akhir pertandingan di lapangan hijau. Di balik barisan kalimat berita dan bidikan lensa kamera, tersimpan realitas kemanusiaan yang kaya akan dinamika perjuangan, kesan mendalam, hingga trauma psikologis. Sisi humanis inilah yang diangkat dalam episode perdana program podcast di kanal YouTube Arema FC Official TV, melalui diskusi bertajuk "Arema FC Bertanya, Wartawan Menjawab".
Acara yang dipandu oleh Manager Operasional Arema FC, Sudarmaji, bersama Head of Media and Publication, Stenly, menghadirkan dua jurnalis olahraga kawakan di Malang, yakni Suci Rahayu dari Kompas.com dan Asad Arifin dari Bola.net. Kedua pewarta berprestasi tersebut mengenang kembali masa-masa awal meniti karier meliput klub berjuluk Singo Edan. Asad mengenang momen kecanggungannya saat pertama kali ditugaskan meliput laga berskala besar antara Arema melawan klub Jerman, Hamburg SV, pada 2014. Sementara itu, Suci membagikan pengalamannya sebagai satu-satunya fotografer perempuan di pinggir lapangan pada 2013 yang sempat canggung membawa peralatan berat di tengah riuk pertunjukan suporter.
Namun, ingatan manis tersebut berganti menjadi suasana haru ketika pembahasan menyentuh peristiwa Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022. Bagi kedua wartawan, tragedi tersebut memberikan bekas luka batin yang sangat dalam. Asad menceritakan kepanikan saat menerima kabar bertahap mengenai jumlah korban yang terus melonjak hingga ia mengalami syok berat saat harus menyelesaikan laporan berita. Di sisi lain, Suci yang berada langsung di lokasi memilih menanggalkan kameranya demi membantu para korban yang kesulitan bernapas dengan alat seadanya. Pengalaman traumatis tersebut bahkan masih menyisakan ketakutan mendadak bagi Suci saat meliput laga beratmosfer tinggi hingga saat ini.
Kendati sempat melewati masa-masa kelam akibat sanksi dan tekanan sosial yang berat, baik Asad maupun Suci menilai Arema FC kini telah melangkah ke arah perbaikan yang positif. Asad mengapresiasi sejumlah perubahan signifikan yang dilakukan manajemen, mulai dari peningkatkan standar keamanan dan kenyamanan fasilitas pertandingan oleh Panitia Pelaksana (Panpel), konsistensi dalam penataan tim teknis, hingga terbentuknya wadah suporter yang lebih terorganisasi melalui Presidium Aremania.
Sebagai mitra strategis klub, para jurnalis ini turut menitipkan dorongan konstruktif agar manajemen semakin adaptif terhadap kebutuhan media era digital, seperti ketersediaan konten visual berformat video serta keterbukaan para pemain saat berinteraksi di area wawancara. Diskusi ini mempertegas bahwa hubungan antara media massa dan klub sepak bola merupakan ekosistem yang saling menguatkan demi merawat ingatan publik serta membangun masa depan sepak bola Indonesia yang lebih baik.