PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menunjukkan ketangguhan bisnis yang luar biasa sepanjang semester pertama tahun 2026. Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan pengetatan likuiditas di industri perbankan, BNI berhasil membukukan pertumbuhan kredit yang ekspansif serta memperkuat struktur keuangannya demi menjaga nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menjelaskan bahwa perseroan secara konsisten berfokus pada penguatan fundamental bisnis dan transformasi digital. Langkah strategis ini diselaraskan dengan program transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah koordinasi Danantara Indonesia, yang mengedepankan tata kelola profesional serta optimalisasi potensi ekonomi di sektor-sektor produktif.
Sebagai motor penggerak pertumbuhan, digitalisasi BNI menunjukkan akselerasi yang signifikan. Pengguna aplikasi ritel wondr by BNI kini menembus angka 15,1 juta dengan lonjakan volume transaksi hingga 110 persen secara tahunan. Sementara untuk segmen korporasi, platform BNIdirect mencatat transaksi senilai Rp6.039 triliun. Layanan digital ini diperkuat dengan inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk memaksimalkan potensi ekonomi lokal di setiap kantor cabang.
Dari aspek kinerja keuangan, Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, memaparkan bahwa penyaluran kredit perseroan melesat 24,4 persen secara tahunan hingga mencapai Rp968,5 triliun. Ekspansi ini diimbangi dengan struktur pendanaan yang sehat, di mana dana murah (Current Account Saving Account/CASA) tumbuh 11,2 persen. Keberhasilan ini menekan biaya dana (cost of fund) menjadi 2,56 persen, turun dari periode tahun lalu sebesar 2,78 persen.
Efisiensi tersebut mendorong laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) BNI mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk paruh pertama, yakni sebesar Rp18,5 triliun. Pendapatan bunga bersih naik 14,2 persen menjadi Rp22,3 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi tumbuh setara mencapai Rp9 triliun, dengan laba bersih konsolidasian tercatat sebesar Rp10,8 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan yang agresif, manajemen risiko yang prudent tetap menjadi prioritas utama. Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, mengonfirmasi perbaikan kualitas aset perseroan dengan penurunan rasio Loan at Risk (LAR) secara signifikan dari 11 persen menjadi 8,1 persen, serta rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang terjaga rendah di level 1,9 persen melalui sistem peringatan dini yang diperketat.