PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) membukukan rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar pada semester pertama tahun 2026. Kendati demikian, penurunan kinerja laba ini bukan dipicu oleh kelesuan operasional bisnis inti, melainkan akibat konsekuensi biaya satu kali (one-off) dari langkah strategis pembiayaan kembali (refinancing) utang perusahaan.
Manajemen Jababeka menjelaskan bahwa kerugian tersebut timbul seiring proses konversi utang obligasi (Senior Notes) berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman perbankan dalam mata uang rupiah. Proses ini memicu beban non-operasional berupa selisih kurs serta biaya penghentian instrumen derivatif. Secara operasional, perseroan sebenarnya masih mencatatkan laba usaha yang solid sebesar Rp524 militar.
Di sisi lain, diversifikasi bisnis perusahaan menunjukkan perkembangan positif yang signifikan. Pendapatan dari pilar infrastruktur melonjak 15 persen menjadi Rp1,398 triliun. Peningkatan ini didorong oleh tingginya konsumsi listrik oleh penyewa (tenant), layanan penyediaan air bersih, pengelolaan kawasan industri, serta ekspansi bisnis logistik melalui Cikarang Dry Port.
Lompatan di sektor infrastruktur ini membuat kontribusinya terhadap total pendapatan perseroan naik menjadi 57 persen dari sebelumnya 45 persen. Hal ini menandakan keberhasilan strategi Jababeka dalam memperkuat pendapatan berulang (recurring revenue) yang dinilai jauh lebih stabil dibandingkan dengan mengandalkan penjualan lahan mentah semata.
Sebaliknya, pendapatan dari sektor pengembangan lahan dan properti mengalami koreksi sebesar 32 persen menjadi Rp974,9 miliar akibat penyesuaian waktu pengakuan penjualan lahan di Kendal. Meski begitu, penjualan unit hunian serta bangunan pabrik siap pakai dilaporkan tetap tumbuh positif, menunjukkan permintaan pasar yang masih bergairah.
Hingga akhir Juni 2026, KIJA berhasil mengantongi pra-penjualan (marketing sales) senilai Rp1,19 triliun, atau sekitar 32 persen dari target tahunan yang dipatok sebesar Rp3,75 triliun. Manajemen optimistis pertumbuhan kawasan industri di Cikarang dan Kendal akan terus menopang kestabilan bisnis perusahaan di masa mendatang.