PEKANBARU – Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Riau mendesak pemerintah daerah untuk bergerak cepat menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah antisipasi ini dinilai krusial guna mencegah kabut asap mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, yang menjadi urat nadi bisnis perjalanan.
Ketua Astindo Riau, Harpina Diansari, menekankan bahwa kelancaran operasional bandara berdampak langsung pada kelangsungan industri pariwisata dan agen perjalanan. Ia berharap pemerintah dapat menemukan solusi jangka panjang yang efektif tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi regional.
Harpina bahkan menyarankan agar pemerintah bersikap terbuka terhadap bantuan penanggulangan karhutla dari negara tetangga, seperti Malaysia. Menurutnya, kolaborasi internasional sangat diperlukan jika eskalasi kebakaran sulit dikendalikan secara mandiri, demi menghindari kerugian ekonomi yang lebih masif.
Beruntung, hingga saat ini, sektor bisnis agen travel di Riau dilaporkan belum mengalami penurunan signifikan. Harapan baru muncul seiring turunnya hujan di beberapa titik wilayah Pekanbaru, yang diharapkan mampu meredam kepekatan kabut asap dan memadamkan titik api.
Senada dengan harapan tersebut, General Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, mengonfirmasi bahwa aktivitas penerbangan sejauh ini masih berjalan normal. Cuaca kondusif yang disertai guyuran hujan di area bandara sangat membantu menjaga jarak pandang tetap aman bagi pesawat yang lepas landas maupun mendarat.
Kendati sektor transportasi udara masih aman, dampak kabut asap karhutla telah mengganggu sektor pendidikan di Pekanbaru. Pemerintah setempat sebelumnya telah mengalihkan proses belajar-mengajar dari tingkat PAUD hingga SMP menjadi daring. Kebijakan serupa juga diterapkan di Universitas Riau yang memberlakukan kuliah daring serta membatasi kehadiran fisik dosen dan pegawai hingga 50 persen.