Di tengah pesatnya modernisasi yang cenderung meninggalkan material konstruksi tradisional, bisnis kerajinan sasak gedek atau anyaman bambu justru membuktikan ketangguhannya sebagai komoditas yang menjanjikan. Subari, seorang pengrajin asal Wringinanom, Gresik, menjadi sosok sentral yang berhasil mempertahankan eksistensi kerajinan tersebut sekaligus meraih kesuksesan ekonomi yang signifikan.

Perjalanan karier Subari dalam industri ini tidaklah instan. Memulai pengalamannya dengan membantu usaha sang kakak, ia kemudian memutuskan untuk merintis galangan mandiri berbekal pengalaman dan tekad yang kuat. Konsistensi dalam menjaga kualitas produk menjadi kunci utama pria dua anak ini dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

Walaupun tantangan utama berupa kelangkaan bahan baku bambu mulai terasa, galangan milik Subari di Jalan Raya Kedungpring tetap menjadi jujugan utama bagi para pencari material bangunan tradisional. Kepercayaan pelanggan terhadap kualitas karyanya membuat pesanan terus mengalir, tidak hanya dari wilayah Gresik, tetapi juga menjangkau pasar yang lebih luas seperti Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, hingga Lamongan.

Keberhasilan Subari membangun hunian bagi anak-anaknya dari hasil usaha sasak gedek menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal tetap memiliki nilai jual yang tinggi jika dikelola dengan dedikasi. Kisahnya menjadi inspirasi bagi para pelaku UMKM bahwa usaha tradisional dapat terus relevan dan menopang ekonomi keluarga di era modern apabila dibarengi dengan komitmen pada mutu.